Samarinda,- Wakil Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Samri Shaputra, melontarkan kritik tajam terhadap proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), yang menurutnya merupakan proyek ambisius dan dipaksakan.
Samri menilai bahwa mundurnya Kepala Otorita IKN dan wakilnya adalah indikator nyata bahwa proyek ini sulit untuk direalisasikan sesuai rencana.
“IKN itu sebuah proyek ambisius yang terlalu dipaksakan. Indikatornya sebenarnya bisa kita lihat dengan mundurnya Kepala Otorita dan wakilnya. Orang yang sekelas Kepala Otorita, yang punya dasar di bidang tersebut dan mengerti kelangsungan dari pembangunan itu bisa menyerah. Itu kode bagi masyarakat bahwa ini sesuatu yang tidak mungkin tapi dipaksakan, ditarget,” ujar Samri pada Selasa (11/7/2024).
Menurut Samri, memaksakan proyek tanpa perencanaan yang matang akan menghasilkan hasil yang kurang memuaskan.
“Kalau kita memaksakan sesuatu, pasti perencanaannya kurang baik dan hasilnya juga akan kurang bagus. Pada akhirnya, pekerjaan yang terlalu dipaksakan pasti akan menghasilkan yang kurang baik,” tegasnya.
Samri juga menyoroti target upacara 17 Agustus di IKN yang menurutnya tidak realistis mengingat progres pembangunan yang masih minim.
“Apalagi memaksa kita mau upacara di 17 Agustus, ini waktunya tinggal satu bulan sementara pembangunan di sana baru berapa persen. Kita lihat saja nanti akhir dari sebuah drama yang dibuat oleh Presiden Jokowi,” kata Samri.
Dengan kritik ini, Samri berharap pemerintah akan mempertimbangkan kembali jadwal dan perencanaan proyek IKN agar lebih realistis dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.













