Samarinda,- Pemilihan Gubernur (Pilgub) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2024 berpotensi hanya memiliki satu pasangan calon, dengan kemungkinan lawan kotak kosong. Hal ini dikarenakan salah satu bakal calon, Rudi Mas’ud-Seno Aji, telah mendapatkan dukungan dari enam partai politik, sementara calon lainnya belum memenuhi syarat pencalonan.
Pasangan Rudi Mas’ud-Seno Aji telah membentuk koalisi yang solid dengan dukungan dari Partai Golkar (15 kursi), Gerindra (10 kursi), PKB (6 kursi), PAN (4 kursi), PKS (4 kursi), dan Nasdem (3 kursi), yang totalnya mencapai 42 kursi.
Sementara itu, pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi baru memperoleh dukungan dari Partai Demokrat (2 kursi) dan masih membutuhkan dukungan tambahan untuk memenuhi syarat pencalonan.
Menanggapi situasi ini, Anhar SK, Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, menyatakan bahwa Pilgub Kaltim 2024 kemungkinan akan menghadapi kotak kosong.
Anhar menilai bahwa banyak partai besar telah memberikan dukungan kepada Rudi Mas’ud-Seno Aji, sehingga membuat situasi politik saat ini cenderung mengarah ke arah tersebut.
“Banyak partai politik yang mendukung salah satu calon membuat peluang lawan kotak kosong semakin besar. Saat ini, tampaknya sulit untuk menahan gelombang dukungan kepada calon tertentu,” ujarnya (19/7/2024).
Anhar juga mengungkapkan bahwa calon gubernur yang hanya mendapatkan satu dukungan partai politik menunjukkan bahwa strategi mereka belum optimal. Meskipun ada opsi jalur independen untuk mendaftar Pilgub, jalur partai politik masih merupakan pilihan utama.
“Pilkada menawarkan dua jalur, yakni jalur independen dan partai politik. Dukungan partai politik mencerminkan minat masyarakat. Jika calon tidak mendapatkan dukungan dari partai, itu menunjukkan bahwa calon tersebut belum siap untuk bertarung,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap partai memiliki proses tersendiri dalam memberikan rekomendasi kepada calon gubernur, yang melibatkan penjaringan, survei masyarakat, dan komitmen terhadap partai. Partai politik umumnya tidak akan memberikan dukungan jika mereka tidak yakin calon tersebut akan menang.
“Komunikasi, komitmen, dan dedikasi adalah hal penting dalam mendapatkan dukungan partai. Jika calon tidak mendapatkan dukungan partai, bisa jadi calon tersebut kurang menarik bagi partai politik dan masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Anhar menyarankan calon gubernur yang kurang mendapat dukungan dari partai politik untuk mempertimbangkan jalur independen jika mendapat dukungan dari masyarakat. Dia menutup dengan mengatakan bahwa koalisi besar dan kecil merupakan hal yang umum dalam dinamika Pilgub.
“Jika calon mendapatkan dukungan masyarakat, jalur independen bisa menjadi alternatif. Fenomena koalisi besar dan kecil adalah hal yang biasa dalam Pilgub,” tutupnya. (ADV)













