TENGGARONG – Dalam upaya serius memberantas Tuberkulosis (TBC), Puskesmas Sebulu 1, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), meluncurkan inovasi kesehatan bernama BESTIE KU TBC (Bersama Terintegrasi Mendukung Eliminasi TBC).
Sejak diperkenalkan pada 2022, program ini menjadi solusi strategis untuk menekan kasus TBC dan menghilangkan stigma negatif terhadap penderitanya.
Dikembangkan oleh perawat senior Nuryani R.A., program ini tak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat untuk mendukung eliminasi TBC. Dengan mengusung filosofi “Betulungan Etam Bisa”, yang digaungkan Bupati Kukar Edi Damansyah, BESTIE KU TBC menjadi contoh nyata kolaborasi lintas sektor dalam pelayanan kesehatan.
Sebelum program ini diterapkan, penanganan TBC di Sebulu menghadapi tantangan besar: penyebaran kasus yang masif, rendahnya tingkat kesembuhan, dan stigma yang membuat penderita enggan berobat.
Banyak pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan karena takut dikucilkan atau kesulitan akses ke layanan kesehatan.
“BESTIE KU TBC hadir untuk memutus siklus ini. Kami tak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga pada masyarakat agar stigma TBC perlahan sirna,” jelas Nuryani, Jumat (29/11/2024).
Program ini menyentuh berbagai aspek kritis, mulai dari edukasi hingga pengobatan. Di antaranya pelatihan Kader. Tim kesehatan membekali kader desa dengan pengetahuan tentang TBC, sehingga mereka mampu melakukan pelacakan kasus, mendampingi pasien, dan melaporkan konsumsi obat.
Lalu, pendekatan personal. Para Dokter spesialis paru-paru secara rutin melakukan pemantauan langsung di puskesmas, memberikan perawatan berkala, dan menangani kasus kompleks.
Kemudian, kolaborasi lintas sektor. Hal ini berkaitan dengan dukungan penuh yang diberikan oleh Pemerintah Kecamatan Sebulu, kepala desa, dan Dinas Kesehatan Kukar.
Kader kesehatan juga berperan penting sebagai ujung tombak, tak hanya dalam pelacakan pasien, tetapi juga sebagai penyedia dukungan moral. Pendekatan ini memastikan pasien tidak merasa sendiri dalam proses pengobatan yang panjang dan intensif.
Program ini juga berupaya meruntuhkan berbagai hambatan yang sering dialami masyarakat, seperti buruknya sanitasi lingkungan, minimnya dukungan keluarga, serta ketakutan akan biaya pengobatan.
“Ketakutan masyarakat akan stigma dan biaya sering kali menjadi alasan utama mereka enggan memeriksakan diri. Dengan BESTIE KU TBC, kami memastikan akses layanan kesehatan lebih cepat, mudah, dan terjangkau,” tambah Nuryani.
Program ini telah mencatatkan dampak signifikan. Salah satunya, tingkat deteksi kasus TBC meningkat, dan angka keberhasilan pengobatan memperlihatkan tren positif.
Keberhasilan ini membawa BESTIE KU TBC meraih penghargaan di Pekan Inovasi Daerah 2022, mengukuhkan Puskesmas Sebulu 1 sebagai salah satu pelopor inovasi kesehatan di Kukar.
Sekretaris Camat Sebulu, Buyung Sasmita, memberikan apresiasi tinggi terhadap program ini. “BESTIE KU TBC telah memberikan perubahan nyata. Ini bukan hanya program kesehatan, tetapi juga solusi sosial yang membangun kesadaran masyarakat. Kami mendukung penuh pelaksanaan program ini,” tegasnya.
BESTIE KU TBC sejalan dengan visi Kabupaten Kutai Kartanegara yang tertuang dalam RPJMD, yaitu menciptakan masyarakat sehat, sejahtera, dan bahagia.
Dengan pendekatan holistik yang melibatkan semua elemen masyarakat, Puskesmas Sebulu 1 optimis mampu mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.
“Kami percaya, dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, kader kesehatan, dan masyarakat, eliminasi TBC bukan hanya mimpi, melainkan tujuan yang bisa dicapai,” tutup Nuryani.
Melalui semangat “Betulungan Etam Bisa”, program ini memberikan harapan baru bagi masyarakat Sebulu untuk bangkit melawan TBC dan memastikan masa depan yang lebih sehat untuk generasi mendatang. (ADV)













