TENGGARONG – Kasus kanker serviks dan kanker payudara di Kecamatan Sanga-sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Puskesmas Sanga-sanga meluncurkan program inovatif GESIT SELES (Gerakan Sadar Periksa IVA Test dan Sedonis Reproduksi Lebih Sehat).
Program ini dirancang untuk mendorong perempuan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sebagai langkah preventif terhadap dua penyakit mematikan tersebut.
Siti Munibah, inisiator sekaligus tenaga kesehatan yang memimpin program ini, menjelaskan bahwa GESIT SELES merupakan implementasi nyata dari Permenkes Nomor 4 Tahun 2019 tentang standar pelayanan dasar kesehatan.
“Tujuan utama program ini adalah pencegahan dini melalui deteksi dan edukasi menyeluruh, sehingga perempuan dapat lebih memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi,” ujar Siti, Jumat (29/11/2024).
Data Puskesmas Sanga-sanga menunjukkan bahwa periode 2019-2022 terdapat empat kasus kanker serviks dan kanker payudara, dengan banyak perempuan enggan memeriksakan diri karena stigma sosial dan kurangnya pengetahuan.
Pada tahun 2022, hanya 235 perempuan yang melakukan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat).
Meski angka ini meningkat menjadi 338 perempuan pada 2023, jumlah tersebut masih jauh dari ideal dibandingkan populasi perempuan usia 30–50 tahun di Sanga-sanga yang membutuhkan pemeriksaan.
“Stigma dan rasa tabu masih menjadi hambatan terbesar. Banyak perempuan merasa malu untuk memeriksakan diri, meskipun risiko kanker serviks dan payudara semakin nyata,” tambah Siti.
Untuk menjangkau lebih banyak perempuan, tim GESIT SELES menggunakan pendekatan yang fleksibel dan berbasis komunitas, di antaranya:
• Posyandu Rutin: Pemeriksaan IVA dijadwalkan setiap bulan di Posyandu, menjadikannya bagian dari kegiatan kesehatan ibu dan anak.
• Arisan PKK: Edukasi dilakukan melalui forum sosial seperti arisan untuk menjangkau kelompok perempuan secara langsung.
• Kunjungan Rumah: Pemeriksaan dilakukan di rumah-rumah warga yang sudah terpilih, dengan melibatkan kader kesehatan setempat.
“Pendekatan ini memberikan rasa nyaman bagi pasien, terutama mereka yang enggan datang langsung ke fasilitas kesehatan. Ini juga meningkatkan kepercayaan mereka terhadap layanan kami,” jelas Siti.
Program GESIT SELES mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Camat Sanga-sanga, Dachriansyah, dan kepala desa setempat. Dachriansyah menekankan pentingnya pencegahan kanker untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Dengan deteksi dini, perempuan memiliki peluang lebih besar untuk sembuh. Program ini memberikan dampak yang nyata bagi kesehatan masyarakat Sanga-sanga,” tegasnya.
Sejalan dengan RPJMD Kukar 2021-2026, program ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan generasi yang unggul dan sehat. Dinas Kesehatan Kukar juga memberikan perhatian serius untuk memastikan keberlanjutan program ini.
Tidak hanya meningkatkan jumlah pemeriksaan, program ini juga berhasil mengurangi ketakutan masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan reproduksi. Perempuan mulai menyadari pentingnya deteksi dini sebagai langkah menyelamatkan hidup.
“Kami tak hanya fokus pada angka, tapi juga perubahan pola pikir. Semakin banyak perempuan yang sadar pentingnya kesehatan reproduksi, maka semakin besar peluang kita menekan angka kasus kanker,” ujar Siti optimistis.
Ke depan, Puskesmas Sanga-sanga berharap GESIT SELES dapat dijadikan model untuk kecamatan lain di Kukar, bahkan diterapkan di tingkat provinsi.
“Ini bukan hanya tentang kesehatan, tetapi juga pemberdayaan perempuan. Dengan kesadaran yang lebih baik, perempuan menjadi lebih percaya diri dan produktif,” tutupnya.
Melalui semangat gotong royong, GESIT SELES membuktikan bahwa dengan pendekatan inovatif, tantangan besar seperti kanker dapat diatasi. Masyarakat yang sadar kesehatan adalah kunci untuk menciptakan generasi yang lebih sejahtera dan bebas dari ancaman kanker serviks dan payudara. (ADV)













