TENGGARONG – Sepak bola di Kutai Kartanegara (Kukar) tidak bisa hanya mengandalkan semangat dan tradisi semata. Jika ingin terus maju dan bersaing di tingkat nasional, modernisasi dan reformasi dalam tata kelola sepak bola daerah menjadi keharusan.
Hal ini disampaikan oleh Bupati Kukar, Edi Damansyah, dalam Ordinary Congress ASKAB PSSI Kukar 2025, Senin (3/3/2025).
Edi menuntut adanya perubahan mendasar dalam sistem pembinaan pemain dan pengelolaan klub-klub lokal, agar Kukar tidak hanya mempertahankan prestasi, tetapi juga menjadi daerah yang melahirkan talenta-talenta sepak bola berkualitas.
“ASKAB PSSI Kukar tidak boleh hanya menjalankan rutinitas administratif. Kita butuh pengelolaan yang lebih profesional, sistematis, dan transparan agar sepak bola Kukar semakin maju,” tegas Edi.
Menurutnya, tanpa reformasi yang serius, Kukar akan kesulitan mempertahankan medali emas yang pernah diraih dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur.
Saat ini, masih ada beberapa kendala yang perlu segera diatasi, di antaranya mnimnya kompetisi usia muda yang berkelanjutan, kualitas pelatih yang masih perlu ditingkatkan.
Kurangnya dukungan infrastruktur sepak bola di daerah dan kurangnya keterlibatan sektor swasta dalam pembinaan pemain.
“Jika kita tidak segera melakukan reformasi, maka sepak bola Kukar bisa tertinggal dari daerah lain. Kita butuh langkah konkret, bukan hanya wacana,” tambahnya.
Untuk itu, Edi meminta ASKAB PSSI Kukar agar lebih fokus pada penguatan kompetisi usia muda, peningkatan kualitas pelatih, serta perbaikan tata kelola klub-klub lokal.
“Kita ingin melihat klub-klub lokal semakin kuat, memiliki sistem pembinaan yang jelas, dan mampu menghasilkan pemain yang siap bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah mendorong klub-klub lokal untuk lebih aktif dalam menjalankan akademi sepak bola dan pembinaan pemain usia dini. Dengan kompetisi internal yang rutin dan berkualitas, regenerasi pemain akan berjalan lebih baik.
Dengan kepemimpinan Thauhid Afrilian Noor sebagai Ketua ASKAB PSSI Kukar yang baru, Edi berharap ada terobosan besar dalam pengelolaan organisasi sepak bola di daerah.
Selain memperbaiki sistem pembinaan, ASKAB PSSI juga diminta membangun sinergi dengan sektor swasta dan pemerintah untuk mendukung keberlanjutan pembinaan pemain.
“Kita tidak bisa bekerja sendirian. Kita perlu melibatkan semua pihak, baik pemerintah daerah, sektor swasta, hingga komunitas sepak bola, agar sepak bola Kukar bisa berkembang lebih cepat,” tambahnya.
Dengan adanya komitmen kuat dari semua elemen sepak bola di Kukar, diharapkan reformasi ini dapat menjadikan Kutai Kartanegara sebagai pusat pengembangan pemain berkualitas di Kalimantan Timur, dan bahkan mampu bersaing di tingkat nasional. (ADV)













