Samarinda – Di tengah arus modernisasi yang cepat dan deras, kekhawatiran akan melemahnya karakter generasi muda mulai mencuat ke permukaan. Fenomena ini tidak hanya terlihat dari gaya hidup yang semakin konsumtif, tetapi juga dari menurunnya sensitivitas sosial, etika, dan semangat kebangsaan.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Agusriansyah Ridwan, menilai bahwa warisan nilai dari generasi pemuda masa lalu bisa menjadi jawaban atas krisis identitas yang kini melanda.
Menurutnya, pemikiran dan prinsip hidup pemuda masa silam justru menyimpan banyak kekuatan moral dan etis yang relevan untuk menjadi dasar pembangunan karakter pemuda hari ini.
Ia menyebut bahwa nilai-nilai perjuangan, keberanian berpikir kritis, solidaritas sosial, serta orientasi pada nilai luhur seperti kejujuran dan tanggung jawab adalah fondasi penting yang mulai terabaikan.
“Kita tidak bisa membangun masa depan hanya dengan teknologi dan ekonomi. Kita butuh jiwa yang kuat, dan itu bisa dipelajari dari pemuda masa lalu yang punya arah berpikir jauh ke depan,” ujarnya, Senin (16/6/2025).
Agusriansyah menyoroti pergeseran orientasi sebagian generasi muda yang lebih memprioritaskan gaya hidup serba instan dan pencapaian materi. Padahal, menurutnya, kemajuan sejati harus disertai dengan kesadaran etika, akhlak, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Saat nilai spiritual dan tanggung jawab sosial ditinggalkan, kita bukan sedang maju, tapi justru bergerak tanpa arah,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan hari ini bukan sekadar pada sektor industri atau digitalisasi, tetapi juga pada kemampuan generasi muda menjaga integritas dan memperkuat karakter.
Dalam konteks itu, nilai-nilai pemuda terdahulu seharusnya tidak dianggap usang, melainkan dikontekstualisasikan agar mampu menjadi pegangan di zaman sekarang.
“Kita bukan bicara romantisme masa lalu, tapi bicara prinsip hidup yang sudah terbukti membentuk generasi kuat. Sekarang tinggal bagaimana kita mengadaptasinya,” tuturnya.
Agusriansyah pun menyerukan perlunya keseimbangan antara produktivitas dan moralitas. Menurutnya, kemajuan suatu daerah tidak bisa hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau teknologi, tetapi juga dari kualitas manusianya.
“Kemajuan harus punya arah. Tanpa pondasi nilai, kita hanya akan terjebak dalam kemajuan semu,” tutupnya. (ADV/DPRD KALTIM)
Penulis NA













