Samarinda –Maraknya tren digital yang menggoda generasi muda untuk langsung terjun ke dunia kerja berbasis media sosial, seperti menjadi influencer atau konten kreator, memunculkan kekhawatiran baru dalam dunia pendidikan.
Di tengah derasnya arus popularitas dan iming-iming penghasilan cepat, pendidikan formal kian kehilangan daya tariknya.
Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Baba, menyoroti pergeseran orientasi ini sebagai fenomena yang patut dicermati dengan serius.
Ia mengakui bahwa teknologi telah membuka jalan baru bagi anak muda untuk berdaya secara ekonomi, namun ia menegaskan bahwa kemandirian finansial semestinya tidak menyingkirkan pentingnya pendidikan.
“Kita boleh bangga dengan anak muda yang kreatif dan berani mandiri, tapi jangan sampai mereka mengabaikan bahwa pengetahuan tetap menjadi bekal utama dalam menghadapi dinamika masa depan,” ujar Baba, Selasa (1/7/2025).
Ia mengamati, sebagian besar generasi muda kini mulai memandang pendidikan sebagai proses yang lambat, terlalu teoritis, dan tidak selalu memberikan hasil langsung. Sementara platform digital menjanjikan pendapatan dalam waktu singkat, bahkan tanpa gelar akademik.
Namun menurut Baba, cara berpikir instan itu justru berbahaya jika tidak dibarengi pemahaman akan risiko jangka panjang. Ia menekankan bahwa dunia digital bersifat sangat fluktuatif dan penuh tekanan, sehingga tanpa dasar keilmuan dan nilai moral yang kuat, banyak yang akhirnya kehilangan arah ketika tren bergeser.
“Konten bisa viral hari ini dan dilupakan esok hari. Kalau tidak punya pondasi yang kokoh, sulit untuk bertahan di industri yang berubah setiap saat,” tambahnya.
Ia tidak menolak kenyataan bahwa teknologi menawarkan alternatif baru dalam cara bekerja dan belajar. Justru menurutnya, pendidikan harus bertransformasi agar tetap relevan dengan realitas digital saat ini.
Ia mendorong sistem pendidikan untuk lebih adaptif misalnya dengan mengintegrasikan pembelajaran daring, keterampilan digital, dan kewirausahaan berbasis teknologi ke dalam kurikulum.
“Kalau sistem pendidikan tetap berjalan seperti dua dekade lalu, tentu akan tertinggal. Kita harus mulai mengajarkan literasi digital dan membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi dunia maya,” jelas Baba.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi anak muda di tengah derasnya godaan dunia digital. Menurutnya, pola komunikasi terbuka jauh lebih efektif dibandingkan larangan sepihak.
“Anak-anak sekarang butuh didengar. Arahkan mereka, jangan hanya menyuruh. Dunia digital punya banyak peluang, tapi mereka juga perlu tahu tentang batasan, etika, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Baba mengajak semua pihak terutama orang tua dan lembaga pendidikan untuk tidak bersikap reaktif terhadap perubahan zaman, melainkan proaktif membekali generasi muda dengan keseimbangan antara kreativitas digital dan kekuatan akademik.
“Menjadi bagian dari era digital adalah keharusan. Tapi jangan sampai masa depan kita dibangun hanya dari likes dan followers. Yang paling tahan lama tetap pengetahuan dan karakter,” tutupnya. (ADV DPRD KALTIM)
Penulis NA













