Samarinda – Kebijakan work from home (WFH) yang diterapkan Pemerintah Kota Samarinda menunjukkan capaian positif dengan tingkat kepatuhan aparatur sipil negara (ASN) yang hampir menyentuh 100 persen.
Evaluasi ini didasarkan pada sistem monitoring digital yang digunakan untuk mengukur kinerja sekaligus dampak efisiensi kebijakan tersebut.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyebut rata-rata kepatuhan ASN terhadap kebijakan WFH telah mencapai 99 persen dan dinilai sesuai dengan target yang ditetapkan.
“Secara rata-rata hampir 100 persen sudah sesuai dengan target dan harapan,” ujarnya, Kamis (23/4/26).
Selain tingkat kepatuhan, kebijakan ini juga berdampak pada efisiensi penggunaan sumber daya. Berdasarkan hasil pemantauan, WFH mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga sekitar 1.900 liter per hari, serta mengurangi penggunaan listrik, air, dan emisi.
Pemantauan kinerja ASN dilakukan melalui dashboard berbasis teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sistem ini memungkinkan seluruh aktivitas kerja terdeteksi dan dilaporkan secara digital.
“Semua aktivitas bisa dideteksi dan dilaporkan secara digital, jadi tidak bisa dimanipulasi,” jelasnya.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) yang menjadi perhatian karena belum sepenuhnya optimal dalam penerapan sistem tersebut, di antaranya Dinas Perikanan, DP2PA, dan Sekretariat DPRD. Pemerintah kota memastikan akan melakukan evaluasi lanjutan untuk mengetahui penyebabnya.
“Kita akan cek apakah ini karena kurang paham atau memang disengaja,” tegasnya.
Evaluasi akan mencakup pemeriksaan laporan kerja harian, mingguan, hingga bulanan ASN. Jika ditemukan pelanggaran yang disengaja, pemerintah menegaskan akan memberikan sanksi sesuai aturan disiplin yang berlaku.
Dalam kesempatan yang sama, konsultan AI Ainun Najib menjelaskan bahwa sistem monitoring yang digunakan telah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan yang kini berperan lebih dari sekadar alat bantu.
“Sekarang AI bukan hanya tool, tapi sudah menjadi semacam rekan kerja atau asisten,” ujarnya.
Ia menilai, Samarinda berpotensi menjadi salah satu daerah pelopor dalam penerapan konsep “ASN AI”, yakni pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai pendamping kerja aparatur sipil negara.
Ke depan, Pemerintah Kota Samarinda menargetkan pemanfaatan AI dapat semakin luas dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun. Meski demikian, penggunaan teknologi tersebut diharapkan tetap seimbang dan tidak mengurangi kemampuan individu ASN dalam menjalankan tugasnya.(adv/nr)













