Samarinda – Pengembangan transportasi massal di Kota Samarinda yang ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027 mendapat respons positif dari DPRD. Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, memastikan bahwa rencana tersebut bukan sekadar wacana, melainkan telah melalui pembahasan di tingkat legislatif.
Ia mengungkapkan, pembahasan terkait transportasi massal bahkan telah dilakukan sejak tahun sebelumnya bersama Badan Anggaran (Banggar) DPRD Samarinda. Hasilnya, terdapat kesepahaman antara legislatif dan eksekutif untuk mendorong program tersebut sebagai kebutuhan mendesak kota.
“Sejak tahun kemarin kami di Banggar sudah membahas itu. Alhamdulillah kita sepakat untuk dijalankan, karena memang ada regulasi yang menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan layanan transportasi massal,” ujar Andriansyah, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, kehadiran transportasi massal di Samarinda tidak hanya memenuhi aspek pelayanan publik, tetapi juga menjadi solusi strategis untuk menekan tingkat kemacetan yang kian meningkat.
“Dengan adanya transportasi massal, kita berharap kemacetan bisa berkurang dan mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien,” tambahnya.
Dari sisi kesiapan teknis, Andriansyah menyebut Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda telah menunjukkan komitmen untuk merealisasikan program tersebut. Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan, terutama terkait kondisi anggaran.
“Dishub sudah berkomitmen, tinggal kita lihat perkembangan ke depan. Apalagi sekarang ada kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, ini akan berpengaruh apakah bisa dilaksanakan sesuai target atau perlu penyesuaian waktu,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa saat ini pemerintah kota masih berada pada tahap perencanaan. Sejumlah skenario tengah disusun, mulai dari penentuan jumlah terminal dan halte pada tahap awal, hingga konsep integrasi layanan transportasi.
Salah satu opsi yang juga dikaji adalah penerapan sistem feeder atau angkutan pengumpan, yang diharapkan mampu memberdayakan angkutan kota yang sudah ada sekaligus mendukung konektivitas transportasi massal utama.
“Sekarang masih disusun skenarionya, seperti berapa halte yang dibangun di tahap awal dan bagaimana sistemnya. Termasuk opsi feeder untuk mengakomodasi angkutan yang ada, itu masih dalam kajian,” pungkasnya. (Adv/Mj)













