TENGGARONG, — Pembangunan fisik Jembatan Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara resmi berjalan.
Proyek yang menjadi bagian dari prioritas infrastruktur daerah itu, kini memasuki tahap awal dengan pekerjaan pemancangan yang telah mencapai delapan titik di sisi Jalan Kartini hingga akhir Mei 2025.
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kukar selaku pelaksana menyebut progres pekerjaan saat ini masih dalam tahap fondasi.
Kepala Bidang Bina Marga DPU Kukar, Linda Juniarti, mengatakan pengerjaan dilakukan berdasarkan kontrak tahun tunggal dan ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
“Delapan titik pancang sudah berdiri di sisi Kartini, dan Kami sudah melakukan uji kekuatan menggunakan alat PDA untuk memastikan daya tahan struktur,” ujarnya, Selasa (3/6/2025).
Sejak pelaksanaan dimulai, tercatat capaian fisik proyek berada di kisaran 5,8 persen pada pekan ke-16.
Namun, sejumlah kendala teknis di lapangan turut memengaruhi kecepatan pekerjaan, terutama kondisi sungai yang kerap berubah dan minimnya peralatan.
Linda mengungkapkan saat ini, hanya ada satu unit alat pancang di lokasi.
Setiap kali distribusi material dilakukan melalui sungai, aktivitas pemancangan harus dihentikan sementara agar proses bongkar muat dapat berlangsung.
Ketidakpastian arus sungai, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri karena memengaruhi stabilitas jadwal kerja.
“Kadang air pasang datang pagi, kadang sore. Itu sangat memengaruhi durasi kerja karena alat berat tidak bisa beroperasi sembarangan di tengah fluktuasi air,” jelasnya.
Rencana pengerjaan akan dilakukan dari dua sisi sekaligus, yaitu sisi Kartini dan Panjaitan, guna mengoptimalkan waktu yang tersisa.
Namun, penambahan alat berat di sisi Panjaitan masih menunggu persetujuan tertulis dari Balai Wilayah Sungai (BWS), yang memiliki kewenangan atas wilayah proyek.
Linda menuturkan bahwa DPU Kukar telah mengajukan permohonan izin melalui sistem OSS, dan secara informal pihak BWS telah memberikan sinyal positif.
Meski demikian, pelaksanaan kerja belum dapat dilakukan sebelum izin tertulis keluar.
“Kami sudah penuhi syarat administratifnya dan terus berkoordinasi, dan bila alat kedua bisa segera diturunkan, pengerjaan dua sisi bisa berjalan paralel,” katanya.
Saat ini, lokasi kerja di sisi Kartini tidak berdampak pada arus kendaraan.
Area konstruksi berada di tepi sungai, sehingga tidak mengganggu jalur utama.
Pengaturan lalu lintas bersifat situasional, hanya dilakukan ketika alat berat harus bermanuver di dekat jalan.
Di sisi lain, proyek ini sempat tertunda dari jadwal semula karena persoalan perizinan pada area distribusi material.
Pekerjaan yang mestinya dimulai Februari 2025 baru bisa dieksekusi beberapa bulan kemudian, mengurangi ruang gerak waktu penyelesaian. Hal inilah yang mendorong strategi pengerjaan simultan dari dua sisi.
Anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan jembatan tersebut mencapai Rp58 miliar.
Dana itu dialokasikan untuk pelaksanaan konstruksi, pengawasan lapangan, koordinasi teknis antar wilayah, serta keperluan administratif lainnya.
Rangka baja sebagai elemen utama jembatan diproduksi di luar daerah, yakni di Bekasi, dan akan melalui proses verifikasi langsung oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
“Kami tetap berupaya menjaga efisiensi meski banyak faktor penghambat,” katanya.
“Harapannya, dengan tambahan alat dan kerja dua arah, target penyelesaian bisa terpenuhi di pengujung tahun ini,” pungkas Linda. (Adv-DPU Kukar)














