Samarinda – Angka pengangguran di Kalimantan Timur (Kaltim) memang menunjukkan tren menurun, namun di balik pencapaian statistik itu, masih tersimpan tantangan struktural yang perlu disikapi secara visioner.
Anggota DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, mengingatkan bahwa penyerapan tenaga kerja tak cukup hanya bergantung pada sektor dominan seperti tambang dan konstruksi.
“Menurunnya tingkat pengangguran tentu kabar baik, tapi kita tidak bisa terlena. Kita harus menyiapkan arah pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal,” ujarnya, Senin (21/7/2025).
Menurut Agusriansyah, tantangan ke depan bukan sekadar membuka lowongan kerja, melainkan mendorong lahirnya ekosistem yang mampu menciptakan lapangan kerja baru secara mandiri.
Ia menilai, pola pikir lama yang menempatkan pemerintah atau perusahaan sebagai satu-satunya penyedia kerja harus diubah.
“Banyak anak muda hari ini punya kapasitas, tapi tak difasilitasi sesuai kebutuhan zaman. Mereka tidak butuh janji lapangan kerja mereka perlu dukungan untuk membangun pasar kerja sendiri,” tuturnya.
Pernyataan tersebut merespons data BPS terbaru yang mencatat penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kaltim dari 6,81 persen pada Februari 2021 menjadi 5,33 persen pada Februari 2025.
Meski positif, Agusriansyah melihat bahwa ketergantungan terhadap sektor ekstraktif membuat struktur ekonomi Kaltim rawan goyah dalam jangka panjang, terutama di tengah tren transisi menuju ekonomi hijau dan digital.
Ia mengusulkan pendekatan baru berbasis pemetaan potensi lokal dan minat generasi muda, dengan dukungan program pelatihan yang kontekstual dan adaptif. Sektor kreatif, teknologi digital, pertanian modern, hingga pengembangan produk lokal untuk ekspor menjadi contoh area yang potensial untuk dikembangkan.
“Jangan terus beri pelatihan lama yang tidak sesuai tren. Kita butuh pendidikan vokasi yang menyentuh kebutuhan dunia kerja hari ini, seperti sertifikasi digital, remote working tools, dan keterampilan konten,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, institusi pendidikan, dan pelaku industri—untuk menyusun strategi ketenagakerjaan berbasis realita lokal, bukan hanya statistik makro.
“Kalau pendidikan tinggi hanya mencetak gelar, tapi tidak relevan dengan dunia kerja, kita akan terus menciptakan pengangguran terdidik. Ini harus dibenahi,” katanya.
Agusriansyah mendorong agar pembangunan ekonomi daerah mulai berpijak dari bawah, dengan memberdayakan potensi yang ada di desa dan komunitas, sekaligus memberikan ruang dan insentif bagi generasi muda untuk menjadi inovator ekonomi.
“Ketahanan ekonomi tidak bisa selamanya ditopang tambang. Yang kita butuhkan adalah kreativitas, keberanian, dan ekosistem yang mendukung terciptanya pekerjaan dari masyarakat sendiri,” pungkasnya. (ADV DPRD KALTIM)
Penulis NA













