SAMARINDA – Keluhan masyarakat terkait distribusi air bersih yang belum merata di sejumlah wilayah Samarinda kembali mendapat perhatian DPRD Kota Samarinda. Gangguan aliran air yang terjadi secara berulang dinilai perlu segera ditangani agar tidak terus membebani aktivitas dan kebutuhan sehari-hari warga.
Ketua DPRD Samarinda, Helmi Abdullah, mengatakan akses terhadap air bersih merupakan layanan dasar yang harus dapat dinikmati masyarakat secara berkelanjutan.
Karena itu, setiap persoalan yang menyebabkan terganggunya distribusi air perlu menjadi prioritas penanganan bagi perusahaan penyedia layanan air minum.
Menurutnya, masyarakat di beberapa kawasan, khususnya wilayah pinggiran kota, masih menghadapi persoalan tekanan air yang rendah hingga gangguan pasokan dalam periode tertentu. Kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh dibiarkan berlangsung dalam waktu lama.
“Air bersih adalah kebutuhan pokok masyarakat. Ketika distribusinya terganggu, tentu warga yang paling merasakan dampaknya karena hampir seluruh aktivitas sehari-hari bergantung pada ketersediaan air,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Helmi menilai persoalan distribusi air tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah pelaku usaha kecil hingga sektor jasa, menurutnya, sangat bergantung pada pasokan air yang stabil untuk menjalankan kegiatan usaha mereka.
Karena itu, ia meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi yang selama ini berjalan, terutama pada wilayah-wilayah yang kerap mengalami gangguan layanan.
Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi titik-titik permasalahan secara rinci agar penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran dan tidak hanya bersifat sementara.
“Wilayah yang sering mengalami gangguan harus dipetakan secara detail. Dengan begitu, penyebab masalahnya bisa diketahui dan solusi yang diberikan lebih efektif,” katanya.
Selain memperbaiki sistem distribusi, Helmi juga mendorong peningkatan kualitas infrastruktur pendukung, termasuk jaringan perpipaan yang dinilai masih membutuhkan pembenahan di beberapa kawasan.
Ia menilai pemerataan layanan air bersih tidak akan tercapai apabila pengembangan dan pemeliharaan infrastruktur tidak dilakukan secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, investasi terhadap jaringan distribusi perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Perbaikan jaringan dan peningkatan infrastruktur harus dilakukan secara konsisten. Jangan sampai ada wilayah yang terus-menerus mengalami masalah karena kondisi jaringan yang sudah tidak optimal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Helmi berharap perusahaan penyedia layanan air minum dapat meningkatkan respons terhadap berbagai keluhan masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang baik dengan pelanggan juga penting agar warga memperoleh informasi yang jelas ketika terjadi gangguan distribusi.
Ia menegaskan bahwa kualitas pelayanan publik harus terus ditingkatkan seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih yang andal dan merata.
“Harapan kita tentu pelayanan semakin baik, distribusi lebih stabil, dan masyarakat tidak lagi menghadapi gangguan yang berulang. Karena air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dengan baik,” pungkasnya. (Adv)












