SANGKULIRANG – Kasus katarak untuk Kabupaten Kutai Timur (Kutim) diduga tersebar di 18 kecamatan. Dengan konsentrasi tertinggi berada di kawasan pesisir dan pedalaman. Ironisnya, mayoritas penderita merupakan kelompok usia lanjut yang sulit mengakses layanan spesialis mata karena keterbatasan jarak dan biaya.
“Wilayah pesisir selama ini mengalami keterbatasan akses layanan spesialis, terutama mata. Padahal, angka kebutaan akibat katarak cukup tinggi di kawasan Sangsakakaukar dan sekitarnya,” ujar Direktur RSUD Sangkulirang dr Azizah bin Smith.
Seiring dengan langkah strategis Pemerintah Kabupaten Kutim dalam memperkuat layanan kesehatan di wilayah terluar, RSUD Sangkulirang resmi meluncurkan layanan operasi katarak modern tanpa jahitan (phacoemulsification). Inovasi ini menjadi tonggak penting dalam Program Pelayanan Mata Paripurna yang kini mulai diterapkan.
Menurut Azizah, teknologi phacoemulsifikasi memungkinkan operasi dilakukan tanpa jahitan. Waktu tindakan lebih singkat dan pasien dapat langsung pulang. Proses penyembuhan hanya memerlukan waktu sekitar satu minggu. Jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional yang memerlukan waktu rawat inap dan pemulihan lebih panjang.
Dukungan alat phacoemulsifikasi yang bersumber dari APBD ini mengakhiri ketergantungan pasien katarak pada kegiatan bakti sosial yang tidak rutin. Masyarakat pesisir Kutim tak lagi harus menunggu momen tertentu untuk mendapat layanan operasi mata. Pelayanan menjadi lebih terstruktur, terjadwal, dan berkelanjutan.
“Dulu harus menunggu mobil bakti sosial. Sekarang cukup ke rumah sakit, bisa diperiksa dan dioperasi tanpa menunggu waktu lama,” ujar Abdul Karim, warga Sangkulirang yang sudah dua tahun mengidap katarak.
Bersamaan dengan itu, RSUD Sangkulirang kini juga diperkuat delapan dokter spesialis dari berbagai bidang, yaitu spesialis bedah, mata, penyakit dalam, anak, kandungan, anestesi, dan patologi klinik, serta satu dokter radiologi.
Dengan formasi ini, layanan spesialis dasar di RSUD Sangkulirang telah terpenuhi. Ditambah dengan spesialis mata sebagai layanan unggulan, harapan baru terbuka. Tak hanya mengurangi angka kebutaan, tapi juga mengembalikan produktivitas masyarakat usia tua dan menjaga kualitas hidup warga pesisir.(ADV/ProkopimKutim/SMN)













