
SANGATTA – Perkembangan teknologi digital dinilai telah membuka peluang besar bagi pelaku pariwisata dalam mempromosikan usaha mereka. Media sosial, khususnya, dianggap sebagai alat pemasaran yang efektif dan efisien, mengingat penggunaannya yang sudah sangat meluas di kalangan masyarakat. Hal ini dapat menjadi solusi praktis untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa memerlukan biaya yang besar, sehingga sangat membantu para pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) sektor pariwisata.
Yusri Yusuf, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), memberikan apresiasi terhadap kemampuan adaptasi pelaku pariwisata di era digital. “Saya pikir untuk penggunaan media sosial saya pikir mereka sudah dengan sendirinya, artinya tidak perlu terlalu besar cukup di gengaman mereka sudah bisa mempromosikan usaha usaha mereka,” ujarnya.
Kemudahan akses media sosial melalui perangkat genggam memang telah mendemokratisasi proses pemasaran. Kini, setiap pelaku usaha dapat menunjukkan potensi wisata, keunikan destinasi, dan layanan mereka langsung kepada calon konsumen secara global tanpa harus melalui perantara. Fenomena ini dinilai sebagai sebuah terobosan yang mampu menyederhanakan strategi pemasaran konvensional.
Meski demikian, di balik kemudahan itu, tetap diperlukan pendampingan yang intensif dalam memaksimalkan pemanfaatan media sosial. Banyak pelaku usaha yang sudah aktif menggunakan platform digital namun belum optimal dalam menyusun strategi konten, mengelola algoritma, atau menjangkau target pasar yang tepat. Di sinilah peran pemerintah dan berbagai stakeholder lainnya dibutuhkan untuk memberikan edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.
Beberapa inisiatif seperti pelatihan pembuatan konten menarik, strategi branding digital, serta teknik pemasaran online yang terukur dapat meningkatkan efektivitas penggunaan media sosial. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, diharapkan promosi yang dilakukan tidak hanya sekadar ada (eksis), tetapi benar-benar mampu membangun engagement dan menarik minat wisatawan untuk berkunjung.
Pada akhirnya, kemandirian pelaku pariwisata dalam memanfaatkan media sosial perlu didukung dengan berbagai program peningkatan kapasitas yang konkret dan berorientasi pada hasil. Sinergi atau kolaborasi yang kuat antara pemerintah, praktisi digital, dan pelaku usaha akan menciptakan ekosistem pemasaran digital yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan bagi perkembangan pariwisata daerah Kabupaten Kutim ke depannya. (ADV)













