SANGATTA — Di balik deru mesin industri dan kepungan arus modernitas yang memacu ritme hidup di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), ada sebuah ruang tenang tempat ingatan kolektif daerah ini dirawat. Di panggung-panggung kecil, percakapan jenaka teater rakyat Sandiwara Mamanda dan denting petikan gambus musik Tingkilan masih terus bergema, menembus riuk perubahan zaman.
Nyala api kebudayaan itu dipelihara oleh Odah Seni Betuah (OSB), sebuah komunitas sekaligus wadah kreatif lintas generasi yang didirikan pada 4 Desember 2014. Namun, membicarakan daya tahan OSB tanpa menyebut nama Padliyansyah adalah perkara mustahil.
Pria yang telah menggeluti dunia seni sejak masa remajanya pada 1986 ini merupakan motor penggerak di balik ruang kreatif tersebut. Bagi Padliyansyah, seni tradisi bukanlah artefak museum yang sekadar dipajang, melainkan organisme hidup yang membutuhkan ruang napas agar tidak punah tertimbun zaman.
Dwilomba Sang Birokrat Budaya
Perjalanan Padliyansyah terbilang unik. Di satu sisi, ia adalah seorang pelestari seni yang terjun langsung ke lapangan; di sisi lain, ia mengakar kuat di dalam struktur birokrasi pemerintahan.
Rekam jejaknya dalam pemajuan kebudayaan daerah terukir lewat peran strategis di dinas terkait. Ia mencatatkan pengabdian sebagai Kasubbag Perencana pada Dinas Kebudayaan Kutim (2017–2023), sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim sejak awal 2023 hingga Januari 2026.
Latar belakang birokrasi ini dipadu dengan kapasitas teknis yang mumpuni. Padliyansyah mengantongi sertifikasi nasional sebagai Juri Pertunjukan sekaligus Ahli Cagar Budaya. Kombinasi keahlian ini memberinya sudut pandang yang utuh: memadukan pemahaman regulasi dengan sensitivitas artistik untuk merawat warisan leluhur.
“Bagi saya, seni dan budaya bukan sekadar kegiatan, tetapi napas kehidupan yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Padliyansyah.
Merawat Harmoni di Tanah Multietnis
Kutai Timur adalah rumah bagi keberagaman. Di tanah ini, masyarakat Kutai, Dayak, serta pelbagai etnis pendatang hidup berdampingan. Lewat ruang-ruang pertunjukan yang digagas OSB, bentang kebudayaan yang beragam tersebut dipadukan tanpa mengikis identitas masing-masing.
Pendekatan ini menjadikannya lebih dari sekadar panggung hiburan semata. Seni difungsikan sebagai media perekat sosial yang merawat harmoni multietnis serta memperteguh identitas kultural daerah.
Akan tetapi, pelestarian yang bertahan lama selalu membutuhkan regenerasi. Memahami hal itu, Padliyansyah secara aktif mendirikan kelompok-kelompok teater di berbagai jenjang pendidikan—mulai dari sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Strategi ini dirancang untuk menanamkan kecintaan terhadap akar budaya sejak dini, memastikan estafet pelaku seni tidak terputus di tengah jalan.
Tetap Menyala Meski Pindah Tugas
Awal tahun 2026 membawa babak baru dalam karier birokrasi Padliyansyah. Ia dipercaya memegang tanggung jawab baru sebagai Kepala Bidang Penataan Desa di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Kutim.
Meski arena tugas formalnya tak lagi berada di ranah kebudayaan, komitmen keaktorannya terhadap dunia seni tidak lantas surut. Di luar jam dinas, langkahnya merawat tradisi tetap konsisten.
Di Aula OSB Kutim, ia membuka pelatihan teater secara cuma-cuma bagi masyarakat umum yang ingin mendalami seni peran. Pintu ruang tersebut terbuka lebar bagi siapa saja yang hendak belajar, berlatih, atau sekadar bertukar gagasan kreatif. Pada saat yang sama, ia terus mengoordinasikan Grup Musik Tingkilan—alunan musik khas Kutai berbahan gambus dan gendang—serta aktif dalam barisan FDT Kutim.
Di tengah dinamika zaman yang terus bergeser, keberadaan wadah seperti OSB dan konsistensi figur seperti Padliyansyah menjadi penanda penting: bahwa di Kutai Timur, kebudayaan daerah tidak dibiarkan menjadi kenangan, melainkan terus dihidupi untuk menyongsong masa depan.(adv)













