Samarinda — Rata-rata lama sekolah di Kalimantan Timur masih terbilang rendah, yaitu sekitar 10 tahun, yang menandakan banyak pelajar terhenti pendidikannya di jenjang menengah.
Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, mengungkapkan bahwa permasalahan ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah daerah tanpa dukungan dari sektor swasta.
Menurut Darlis, kendala utama yang menyebabkan tingginya angka putus sekolah di Kaltim bukan hanya soal biaya pendidikan, melainkan juga beban biaya hidup yang harus ditanggung para pelajar dan keluarganya sehari-hari.
“Meski pemerintah telah meluncurkan program pendidikan gratis, kenyataannya masih banyak siswa yang terpaksa berhenti sekolah karena kesulitan biaya makan, transportasi, dan akomodasi,” ucap Darlis, Selasa (24/6/2025).
Oleh karena itu, dia menekankan perlunya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah daerah dan perusahaan swasta melalui program CSR yang diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup pelajar selama menjalani pendidikan.
“Tidak cukup hanya memberikan bantuan untuk uang sekolah, tapi harus dipikirkan juga bagaimana mengatasi biaya pendukung lain agar siswa bisa tetap sekolah tanpa beban ekonomi yang berat,” ujar Darlis.
Lebih jauh, Darlis mengingatkan bahwa memperpanjang masa sekolah bukan sekadar meningkatkan angka partisipasi, tetapi juga harus disertai dengan peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Sehingga, faktor kualitas guru, fasilitas belajar yang memadai, dan inovasi metode pengajaran menjadi aspek krusial yang tidak boleh terabaikan.
“Pendidikan yang berkualitas adalah fondasi utama untuk mencetak generasi yang siap bersaing di masa depan. Pemerintah dan swasta harus bergerak bersama demi menghadirkan pendidikan yang tidak hanya luas aksesnya tapi juga unggul mutu,” imbuhnya.
Darlis optimis bahwa dengan langkah strategis melalui sinergi multisektor, angka rata-rata lama sekolah di Kaltim akan menunjukkan peningkatan yang berarti dalam waktu dekat, membuka peluang lebih besar bagi generasi muda di daerah tersebut. (ADV DPRD KALTIM)
Penulis NA













