BENGALON – Di kaki perbukitan Kecamatan Bengalon, Desa Persiapan Sekurau Atas kembali bergema suara syukur. Masyarakat Dayak Basap menggelar syukuran pascapanen padi gunung varietas mayas, tradisi yang bukan sekadar ritual, tetapi juga strategi menjaga ketahanan pangan berbasis budaya lokal.
Syukuran pascapanen padi gunung varietas mayas di Desa Persiapan Sekurau Atas, Kecamatan Bengalon, menjadi momen penting bagi masyarakat Dayak Basap. Tradisi adat itu dirangkai dengan penguatan komitmen pemerintah daerah terhadap ketahanan pangan.
Acara dimulai doa adat dan makan bersama, dihadiri Bupati Kutai Timur (Kutim) H Ardiansyah Sulaiman, Komandan Lanal Kutim Letkol Laut (P) Fajar Yuswantoro, tokoh adat, serta perwakilan kecamatan. Bupati duduk sejajar dengan petani, mendengar langsung cerita ladang dan harapan warga.
Plt Kepala Desa Persiapan Sekurau Atas Jamhari menjelaskan, padi mayas ditanam sekali setahun di lahan sekitar 30 hektare tanpa pupuk kimia. “Tanah juga butuh istirahat. Kalau terus dipaksa, dia akan marah. Itu ajaran leluhur kami,” ujarnya. Pola tanam ini dinilai menjaga kesuburan dan menjadi bentuk pertanian berkelanjutan.
Dalam sambutan, Ardiansyah menilai syukuran panen mencerminkan keberhasilan mengelola sumber daya alam secara bijak. Ia menegaskan program pertanian Kutim sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto. Pemkab Kutim menyiapkan 100 ribu hektare lahan pertanian baru, 20 persen untuk padi, 80 persen untuk hortikultura seperti cabai, bawang merah, pisang, nanas, dan kakao.
Jamhari juga menyuarakan harapan agar Sekurau Atas segera ditetapkan sebagai desa definitif agar akses pembangunan semakin luas. Menanggapi itu, Ardiansyah menyebut 11 desa persiapan di Kutim, termasuk Sekurau Atas, tengah dalam proses percepatan legalisasi dan ditargetkan definitif pada 2025. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













