MUARA BENGKAL — “Ini dirawat pakai swakelola, ya?” tanya Mahyunadi kepada lelaki yang karib disapa Aqla. “Benar, Pak,” jawab Aqla. “Dirawat yang baik, gunakan batu yang sesuai,” lanjut Mahyunadi. Percakapan singkat ini muncul antara Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi yang saat itu tengah melakukan kunjungan lapangan, dengan Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Wahasuna Aqla yang mendampinginya.
Yang dirujuk oleh Mahyunadi, tak lain adalah jalan poros Rantau Pulung-Batu Ampar yang dilaluinya untuk menuju ke Muara Bengkal. Jalan yang dirawat dengan sistem swakelola ini, mendapat sorotan karena bagi Mahyunadi kualitas jalan bukan semata urusan teknis, tetapi urusan keadilan akses untuk seluruh warga.
Untuk mengejar efisiensi, jalan kabupaten penghubung antarwilayah Kutim di pedalaman memang dibangun dan dirawat dengan program swakelola. Meski begitu, Mahyunadi tak ingin efisiensi itu mengorbankan kualitas jalan yang sangat krusial dalam menghubungkan belasan desa dengan akses ekonomi dan pelayanan publik.
Dari desa-desa tersebut, setidaknya tiga di antaranya akan dikunjungi Mahyunadi dalam perjalanan kali ini. Yakni, Desa Senambah di Muara Bengkal, Desa Senyiur di Muara Ancalong, serta Desa Long Bentuk di Kecamatan Busang. Rangkaian kunjungan ini akan berlangsung secara maraton dengan menyisir jalur darat yang sebagian masih belum layak dilalui kendaraan biasa.
Kunjungan Mahyunadi ini bukanlah aksi simbolik belaka. Secara pribadi, ia ingin memastikan bahwa pembangunan terus bergerak hingga ke pedalaman dan perbatasan, tidak lantas berhenti di pinggir kota. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













