SANGATTA – Keberadaan layanan MRI (Magnetic Resonance Imaging) tak hanya penting dalam konteks kemajuan teknologi medis, tapi juga menyangkut efisiensi pengeluaran masyarakat. Sebelumnya, pasien dari Kutai Timur yang membutuhkan MRI harus menempuh jarak ratusan kilometer ke rumah sakit rujukan di ibu kota provinsi. Tak sedikit dari mereka harus menanggung biaya tambahan transportasi, akomodasi, dan logistik yang tak sedikit.
Namun kini, dengan hadirnya layanan MRI di RSUD Kudungga Sangatta, potensi penghematan langsung dirasakan masyarakat, apalagi bagi mereka yang berasal dari kecamatan pelosok. Setelah sekian lama harus bergantung pada rujukan keluar kota, warga Kutim kini punya jawaban di rumah sendiri.
“Dulu kami kirim pasien ke Samarinda atau Balikpapan. Sekarang cukup di sini,” ujar Direktur RSUD Kudungga dr Muhammad Yusuf, dalam peresmian yang berlangsung di Aula Lantai 3 RSUD Kudungga, awal April 2025 lalu.
Layanan yang resmi dibuka oleh Bupati Kutim H Ardiansyah Sulaiman, kini sudah bisa diakses oleh publik. Teknologi pencitraan medis tanpa radiasi itu menandai satu lompatan besar RSUD Kudungga dalam membuka akses kesehatan presisi tinggi dengan biaya yang lebih terukur.
“Alat ini bukan hanya investasi alat, tetapi investasi untuk masa depan layanan kesehatan di Kutai Timur,” ujar Yusuf, yang memastikan bahwa akses ini tak hanya bisa dinikmati pasien umum berbayar, tapi juga mereka yang dibiayai negara.
Dengan teknologi dan tarif yang terbuka, RSUD Kudungga juga ingin memastikan bahwa pelayanan berkualitas bukan hak eksklusif kota besar, melainkan bagian dari hak dasar seluruh rakyat. Termasuk mereka yang tinggal jauh di pedalaman Kutim. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













