
SANGATTA – Anggota Komisi B DPRD Kutai Timur, Yusri Yusuf, mengungkapkan strategi pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di daerah ini dinilai masih belum signifikan dan bersifat konvensional. Evaluasi ini disampaikannya dalam wawancara di Sangatta.
Yusri menyatakan dewan telah mendorong dinas terkait untuk lebih serius mengembangkan sektor ini. “Ekraf itu kami tekankan ke dinas untuk pengembangan Ekraf, tapi mereka masih punya program yang betul-betul sesuai dengan kerja mereka,” ujarnya. Ia menegaskan, “Kita minta supaya Ekraf itu ditingkatkan.”
Namun, menurutnya, strategi yang dijalankan hingga saat ini belum menunjukkan perkembangan berarti. “Untuk strateginya ya saat ini belum terlalu signifikan lah, maksudnya apa yang ada sih sesuai aja, karena pengembangan Ekraf masih seperti yang sebelum-sebelumnya,” jelas Yusri. Ia mencontohkan kegiatan yang selama ini berjalan, “Melayani UMKM, membantu-bantuan produksi mereka, mungkin seperti itu.”
Lebih lanjut, Yusri mengakui pengembangan Ekraf di Kutai Timur belum menjangkau sektor digital yang sedang tren. “Cuma untuk mengambil yang seperti streaming-streaming, youtuber, itu belum, belum Sampai ke sana,” tuturnya. Ia menjelaskan alasannya, “Karena dianggap belum terlalu populer bagi kita. bagi kita nih ya. Kalau nasional sudah populer, tapi bagi kabupaten belum ada yang meminta untuk seperti itu.”
Pernyataan ini mengindikasikan pengembangan Ekraf di Kutai Timur masih berfokus pada UMKM tradisional dan belum merambah peluang ekonomi kreatif digital, meskipun potensinya telah berkembang di tingkat nasional. Kondisi ini menunjukkan perlunya inovasi strategi yang lebih adaptif terhadap tren ekonomi digital. (ADV)













