
SANGATTA – Pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendapatkan sorotan serius dari DPRD setempat. Komisi B DPRD Kutim secara khusus mendesak peningkatan dan penyempurnaan strategi pengembangan sektor potensial ini. Desakan ini disampaikan Yusri Yusuf, anggota Komisi B, dalam wawancara di Sangatta.
Yusri mengungkapkan bahwa dewan telah memberikan instruksi khusus kepada dinas teknis terkait untuk lebih fokus pada pengembangan Ekraf. Instruksi ini menunjukkan perhatian politik yang tinggi dari dewan terhadap masa depan sektor ekonomi berbasis kreativitas ini.
“Ekraf itu kami tekankan ke dinas untuk pengembangan Ekraf, tapi mereka masih punya program yang betul-betul sesuai dengan kerja mereka,” ujarnya.
Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa program yang dijalankan dinas terkait dinilai masih berjalan dalam koridor ‘business as usual’ dan belum menunjukkan terobosan signifikan. Lebih lanjut, Yusri menegaskan tuntutan inti dari dewan.
“Kita minta supaya Ekraf itu ditingkatkan,” tegasnya.
Permintaan peningkatan ini mengandung makna luas, mulai dari penambahan alokasi anggaran, inovasi program, hingga efektivitas implementasi di lapangan. Namun, upaya peningkatan yang diharapkan dinilai belum sepenuhnya didukung strategi yang efektif dari pihak eksekutif.
Menurut penilaian Yusri, pendekatan yang dilakukan dinas terkait saat ini belum menunjukkan perubahan berarti dibandingkan periode sebelumnya. Strategi yang ada dianggap belum mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekosistem Ekraf.
“Untuk strateginya ya saat ini belum terlalu signifikan lah, maksudnya apa yang ada sih sesuai aja, karena pengembangan Ekraf masih seperti yang sebelum-sebelumnya,” jelasnya.
Ungkapan “masih seperti yang sebelum-sebelumnya” merupakan kritik konstruktif yang menunjuk pada kondisi stagnasi dalam pendekatan pengembangan. Hal ini mengindikasikan perlunya revitalisasi strategi untuk menjawab tantangan zaman di sektor ekonomi kreatif.
Aktivitas yang dijalankan dinas, seperti dipaparkan Yusri, masih bersifat umum dan reaktif, serta belum menyentuh aspek pengembangan yang lebih strategis dan transformatif.
“Melayani UMKM, membantu-bantuan produksi mereka, mungkin seperti itu,” tambah Yusuf.
Aktivitas seperti ‘melayani’ dan ‘membantu-bantuan produksi’ dinilai belum cukup untuk menciptakan lompatan nilai dalam pengembangan Ekraf. Pendekatan yang lebih visioner masih perlu ditingkatkan untuk memacu pertumbuhan sektor ekonomi kreatif di Kutim. (ADV)













