Samarinda – BEM FISIP UNMUL menggelar diskusi publik bertajuk “Menakar Satu Tahun Kepemimpinan Rudy-Seno (Janji Pendidikan Gratis dan Realitas Implementasinya),” pada Selasa (31/3/2026), di Lt 4 Gedung Rektorat Universitas Mulawarman.
Presiden BEM FISIP UNMUL, Rossa Tri Rahmawati Bahri, menegaskan bahwa diskusi publik ini merupakan langkah lanjutan dari upaya pengawalan kebijakan yang telah dilakukan sejak tahun sebelumnya.
Ia menyebut, kegiatan tersebut tidak hanya sebatas ruang kajian, tetapi juga menjadi wadah untuk membuka dialog antara mahasiswa dan pemerintah daerah.
“Diskusi ini diadakan sebagai langkah konstruktif lanjutan dari pasca aksi satu tahun Pemprov lalu. Selain mengkaji dan menyoroti, kami juga berusaha membuka ruang dialog yang mewadahi aspirasi masyarakat. Ini juga konsistensi kami dalam mengawal isu, karena di tahun sebelumnya sudah kami lakukan hal yang serupa,” ujarnya.
Rossa mengakui bahwa dalam satu tahun pertama kepemimpinan pemerintah provinsi terdapat banyak persoalan yang muncul. Namun, tidak seluruhnya dapat dibahas secara mendalam dalam satu forum.
“Sebenarnya dalam satu tahun pertama ini banyak permasalahan yang terjadi, tapi jika dibahas semua tidak akan cukup untuk dikupas tuntas. Makanya kami ambil yang relate dengan kami hari ini, khususnya bidang pendidikan,” lanjutnya.
Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat ketimpangan antara janji yang disampaikan pemerintah dengan realisasi di lapangan, khususnya dalam implementasi program pendidikan gratis.
“Sejauh ini masih banyak ketimpangan dari yang dijanjikan dengan implementasi di lapangan. Mulai dari tata kelola birokrasi yang belum rapi, seperti sinkronisasi data, pendataan yang berbasis digital, yang pada akhirnya berdampak kepada kami mahasiswa yang tidak tahu-menahu perihal mekanisme tersebut,” tegasnya.
Ia berharap, berbagai temuan yang disampaikan dalam forum diskusi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah provinsi untuk melakukan perbaikan ke depan.
“Harapannya setelah kami menyampaikan seluruh temuan, Pemprov bisa berbenah dan lebih baik. Setelah diskusi publik ini pun kami akan mengeluarkan rekomendasi atau bentuk lain untuk menyikapi hasil diskusi,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk tidak bersikap pasif terhadap kebijakan yang dinilai merugikan.
“Ketika ada hal yang terjadi dan merugikan, saya harap tidak berpasrah, tapi justru harus dipertanyakan bagaimana agar tidak rugi. Yaitu dengan terus mengkritisi kebijakan yang ada, jangan sampai lengah. Dari situ akan terbangun terus jiwa kepedulian kita terhadap masa depan banyak orang,” tutupnya.













