KOMBENG — Produk pakaian adat dan kerajinan Dayak menjadi salah satu barang yang ditawarkan dalam Festival UFAH 2026 di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Salah satu pedagang, Bu Long, mengaku memperoleh omzet hingga Rp5 juta dalam sehari ketika kondisi festival ramai.
Bu Long membawa berbagai produk budaya untuk dijual kepada pengunjung. Di lapaknya terdapat baju Dayak Cawas, topi, kalung, parang baru, rumpi-rumpi, anjat, serta berbagai jenis tas yang juga digunakan untuk membawa pakaian dagangan.
Ia mengatakan kesempatan berjualan dalam festival menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan sekaligus ikut meramaikan kegiatan budaya masyarakat. Para tenan memang dikenakan pungutan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Dipungut juga sedikit,” kata Bu Long saat ditemui di lokasi festival, belum lama ini.
Menurutnya, pendapatan saat festival berlangsung cenderung lebih tinggi dibandingkan ketika berjualan dari rumah. Jika di rumah omzetnya dapat mencapai sekitar Rp1 juta sehari dan terkadang lebih, kondisi festival memberikan peluang transaksi yang lebih besar.
Dalam satu hari, ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Saat pengunjung semakin ramai, omzet tersebut bahkan dapat meningkat hingga Rp5 juta.
“Tidak tentu juga. Ada satu juta kalau di rumah, kadang begitu, kadang lebih juga. Ada yang Rp2 juta, Rp3 juta, ada juga sampai Rp5 juta kalau ini baru satu hari,” ungkapnya.
Bu Long menyebut tingkat keramaian pengunjung menjadi salah satu faktor yang menentukan jumlah penjualan. Saat festival berlangsung, calon pembeli lebih banyak dibandingkan kondisi ketika ia hanya berjualan dari rumah.
“Kalau waktu yang begini ada yang beli, ramai. Kalau di rumah kadang-kadang begitu, ada tidak,” tuturnya.
Selain mendatangkan pendapatan, festival juga menjadi sarana bagi Bu Long memperkenalkan produk budaya Dayak secara langsung kepada pengunjung. Pakaian adat dan berbagai kerajinan yang dijual menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sekaligus memperlihatkan identitas budaya masyarakat.
Bu Long berencana tetap mengikuti seluruh rangkaian Festival UFAH 2026. Kegiatan dimulai pada Minggu (9/8/2026) dan berlangsung selama tiga hari.
Setelah hari pertama, lokasi berjualan para tenan akan dipindahkan ke area bawah kolong Lamin Aruq sesuai pengaturan kegiatan.
“Ya, sampai selesai. Dari hari ini, tiga hari ke depan. Kami nanti pindah di bawah kolong,” ujarnya.
Kehadiran para pelaku usaha tersebut menambah dimensi dalam Festival UFAH. Selain menjadi ruang pertunjukan budaya, festival juga mempertemukan produk masyarakat dengan konsumen dan membuka peluang perputaran ekonomi lokal.(ADV/prokopim/Kutim)













