Anggota DPRD Kalimantan Timur, Nurhadi Saputra, mengusulkan agar batik Kalimantan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah.
“Mengenalkan batik lokal melalui pendidikan formal di sekolah dapat menjadi langkah efektif dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas daerah,” katanya, Rabu (13/11/24).
Menurut Nurhadi, meskipun batik lebih dikenal sebagai warisan budaya Jawa, Kalimantan juga memiliki kekayaan motif batik yang unik dan beragam. Setiap daerah di Kalimantan, mulai dari Kalimantan Timur, Tengah, Selatan, hingga kota-kota seperti Balikpapan dan Berau, memiliki ciri khas motif batiknya sendiri yang sangat layak untuk dipelajari dan dilestarikan.
“Pelestarian batik dapat dimulai dengan mengenalkan siswa pada ragam motif batik di sekolah. Saya mengusulkan agar di tingkat SMP, siswa mulai belajar menggambar motif batik, yang kemudian bisa dilanjutkan dengan praktik membatik di SMA,” jelas Nurhadi.
Lebih lanjut, ia berharap kurikulum ini dapat membantu generasi muda lebih mengenal dan mencintai batik khas daerah mereka. Dengan demikian, selain mengasah keterampilan seni, pembelajaran batik di sekolah juga dapat memperkenalkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif dan teknik pembuatannya.
“Pembelajaran batik bukan hanya soal keindahan motif, tetapi juga mengenai nilai budaya yang mendalam yang ada di dalamnya. Ini penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme di kalangan generasi muda,” ujar Nurhadi.













