TENGGARONG, — Embung Maluhu, salah satu kawasan penampungan air di Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, kini mulai mendapat perhatian serius dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar.
Tak sekadar infrastruktur ketahanan air, embung ini diarahkan menjadi ruang publik yang multifungsi: dari edukasi, konservasi, hingga penguatan pariwisata lokal.
Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan beberapa tahap penguatan fisik di kawasan tersebut.
“Fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas jalur pedestrian dan konektivitas antar sisi embung,” lanjutnya saat di wawancarai media ini, Rabu (11/6/2025).
“Paving blok akan kita perkuat, jembatan kecil penghubung dua sisi embung juga kami perbaiki, dan ini penting untuk mendukung kenyamanan pengunjung dan menunjang kegiatan masyarakat,” katanya.
Pengembangan kawasan juga akan dilengkapi dengan pembangunan gazebo, yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan edukatif.
Gazebo ini ditujukan untuk pelajar, kelompok Pramuka, dan komunitas yang membutuhkan ruang kegiatan alam terbuka.
“Kami ingin embung ini jadi lokasi belajar yang menyenangkan, dan Anak-anak bisa berkegiatan di alam tanpa harus jauh dari kota,” ujarnya.
Selain itu, DPU Kukar juga mendorong pemanfaatan embung untuk aktivitas perikanan dan ekonomi masyarakat.
Festival pemancingan yang pernah diselenggarakan di lokasi tersebut, menjadi contoh awal yang akan diperkuat pada pelaksanaan berikutnya.
“Festival itu bagus, tinggal Kita sempurnakan fasilitas pendukungnya. Teras akan Kami benahi, dan pengelolaan kegiatan juga akan lebih tertata dengan dukungan kelurahan,” jelasnya.
Wiyono menambahkan, kawasan sekitar embung yang masih didominasi hutan juga memegang peranan penting dalam keberlangsungan fungsi embung.
Menurutnya, menjaga tutupan hutan menjadi keharusan agar pasokan air tetap stabil.
“Kalau hutannya rusak, airnya pasti terganggu, maka Kami mengajak masyarakat, untuk turut menjaga kawasan sekitar embung ini,” tegasnya.
DPU Kukar juga tengah mengkaji opsi pengembangan lanjutan, seperti penanaman pohon pinus sebagai elemen penghijauan dan penarik wisata.
Penataan lansekap dianggap penting agar embung bisa menjadi kawasan yang nyaman, rindang, dan estetis.
Wiyono mengakui, jaringan distribusi air dari embung ke lahan pertanian sekitar masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan.
Namun ia memastikan, penguatan fungsi embung tetap menjadi bagian dari dukungan PU terhadap program ketahanan pangan.
“Kalau kawasan ini berkembang, bukan hanya wisata yang bergerak, tapi ekonomi lokal juga ikut tumbuh,” ujarnya.
Pemerintah Daerah, melalui Dinas PU Kukar, akan terus menambah fasilitas penunjang kawasan.
Namun Wiyono juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat, untuk ikut menjaga dan merawat embung tersebut.
“Kami bisa bangun fasilitasnya, tapi keberlanjutannya tergantung kebersamaan Kita semua, dan Embung ini milik masyarakat, mari kita jaga bersama,” pungkasnya. (Adv-DPU Kukar)














