Samarinda — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda memetakan dua kecamatan dengan tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi di Kota Samarinda, yakni Kecamatan Samarinda Utara dan Palaran.
Analis Kebencanaan BPBD Samarinda, Hamzah Umar, menyebut kedua wilayah itu masih didominasi lahan pertanian dengan tingkat kepadatan permukiman yang relatif rendah, sehingga menjadi lokasi yang paling sering terdampak karhutla.
“Kejadian kebakaran hutan dan lahan paling sering terjadi di Kecamatan Samarinda Utara dan Palaran karena wilayahnya masih didominasi area pertanian serta permukimannya belum terlalu padat,” ujar Hamzah, Rabu (15/4/26).
Tak hanya soal api, Pemkot Samarinda juga mengingatkan ancaman berkurangnya ketersediaan air baku selama musim kemarau. Masyarakat diminta menggunakan air bersih secara bijak dan tidak boros.
Bagi warga yang bergerak di sektor pertanian, pemerintah menyarankan pembangunan tampungan air seperti embung atau sumur dalam sebagai langkah antisipasi kekeringan yang berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi kesehatan, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari saat suhu udara sedang tinggi. Konsumsi air putih yang cukup juga ditekankan guna mencegah risiko dehidrasi.
Informasi kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau ini telah disampaikan hingga tingkat rukun tetangga (RT) melalui koordinasi antara camat, lurah, dan jaringan relawan di masing-masing wilayah.
Hamzah menegaskan, kecepatan pelaporan menjadi kunci dalam penanganan karhutla. Warga yang menemukan indikasi titik api diminta segera melapor kepada ketua RT setempat, BPBD, maupun petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
“Apabila menemukan titik api, segera laporkan. Posko pemadam telah disiagakan di 11 titik yang tersebar di 10 kecamatan,” pungkasnya.(adv/nr)













