Samarinda – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan makna dua indikator utama yang menjadi tolok ukur kinerja penanggulangan bencana di Kota Samarinda usai mengikuti Rapat Hearing Komisi III DPRD Kota Samarinda terkait Rencana Kerja Kegiatan Tahun Anggaran 2026 dan Rencana Kerja Tahun Anggaran 2027, yang digelar pada Rabu, (8/7/2026), di Ruang Rapat Utama Lantai 2 DPRD Kota Samarinda.
Menurut Suwarso, indikator pertama adalah indeks risiko bencana yang rendah. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa BPBD Kota Samarinda telah menjalankan standar pelayanan minimal dengan baik, mulai dari aspek pencegahan, kesiapsiagaan, kedaruratan, logistik hingga pascabencana.
“Indeks risiko bencana rendah, itu menggambarkan bahwa karena di BPBD Kota Samarinda itu sudah menjalankan pelayanan minimalnya dengan baik, mulai dari sisi pencegahan kesiapsiagaan, itu nilainya tertinggi, termasuk kedaruratan dan logistik dan pascabencana.”
Ia mengatakan, tingginya partisipasi masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya risiko bencana di Kota Samarinda.
“Akhirnya, termasuk partisipasi masyarakat juga tinggi. Kita juga memasang beberapa titik rambu-rambu kebencanaan. Itu akhirnya risikonya korbannya menjadi rendah.”
Menurutnya, kepatuhan masyarakat untuk tidak membangun di kawasan rawan bencana juga ikut menekan tingkat risiko.
“Ketaatan masyarakat untuk tidak membangun di daerah-daerah yang risiko tinggi, baik itu dari sisi banjir dan longsor, itu juga menjadi bagian bahwa risiko bencana rendah.”
Selain itu, Suwarso menjelaskan indeks ketahanan daerah Kota Samarinda juga berada pada kategori tinggi. Capaian tersebut didukung berbagai dokumen perencanaan, penguatan kelembagaan, hingga peningkatan kapasitas masyarakat.
“Kemudian, kait yang kedua, bahwa indeks ketahanannya tinggi. Kenapa ketahanannya tinggi? Karena kita sudah memiliki dokumen-dokumen rencana penanggulangan bencana, punya dokumen rencana kontinjensi, punya peta kajian risiko bencana yang terus kita sosialisasikan.”
Ia menyebut BPBD juga terus membentuk Kelurahan Tangguh Bencana serta menyelenggarakan berbagai pelatihan kebencanaan.
“Termasuk membentuk kelurahan tangguh bencana, kemudian pelatihan-pelatihan dari mulai dari sekolah untuk satuan pendidikan aman bencana, kemudian kelembagaan-kelembagaan yang kita bentuk terus, itu bagian dari indeks ketahanan daerah kita tinggi.”
Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi alasan utama tingginya indeks ketahanan daerah.
“Kenapa tinggi? Karena memang semua kolaborasi itu semua dijalankan. Sehingga kalau ada bencana itu cepat kita tangani dengan baik, termasuk persiapan tim reaksi cepat kita juga sudah banyak dan terlatih.”
Terkait penilaian kedua indikator tersebut, Suwarso menjelaskan bahwa masing-masing memiliki indikator kinerja utama (IKU) yang berbeda.
“Untuk indeks kinerja utama untuk indeks risiko bencananya rendah, itu IKU-nya Wali Kota. Kalau indeks ketahanan daerah, itu IKU-nya Kepala BPBD Kota Samarinda.”
Sementara itu, mengenai wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, Suwarso mengatakan kondisi tersebut bergantung pada jenis ancaman bencana yang ada.
“Variatif ya, kan jenis bencana kita banyak nih. Ada banjir, ada longsor, ada cuaca ekstrem, ada kebakaran lahan, itu ya bervariasi ya.”
Ia menjelaskan, kawasan perbukitan memiliki risiko longsor yang lebih tinggi, sedangkan wilayah dataran rendah maupun rawa-rawa cenderung berisiko banjir.
“Kalau risiko longsor tinggi terutama pasti di perbukitan. Kalau risiko banjir tingginya berarti daerah-daerah yang dataran rendah atau daerah-daerah yang selama ini terjadi di dataran rendah atau rawa-rawa, itu kan risikonya setinggi seperti itu.”
Ia menambahkan, masyarakat dapat melihat informasi secara rinci mengenai tingkat risiko bencana melalui Dokumen Kajian Risiko Bencana Kota Samarinda maupun aplikasi InaRISK.
“Itu jenisnya seperti itu, tapi nanti secara detail di dalam dokumen kajian risiko bencana Kota Samarinda ada. Atau adik-adik kalau mau membuka di aplikasi InaRISK, itu semuanya terbaca. Mana risiko tinggi, mana risiko rendah,” pungkasnya. (Iqbal Al-Fiqri)













