Samarinda — Dorongan untuk melepas ketergantungan ekonomi dari sektor pertambangan terus digaungkan di Kalimantan Timur (Kaltim).
Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Syarifatul Sya’diah, menggarisbawahi pentingnya Kabupaten Berau mengembangkan sektor pariwisata dan pertanian sebagai pilar baru pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Syarifatul menyampaikan bahwa Berau memiliki potensi besar di luar tambang yang selama ini menjadi andalan utama daerah.
Menurutnya, kekayaan alam dan budaya lokal merupakan modal kuat untuk mengembangkan sektor wisata yang berdaya saing tinggi.
“Berau tidak bisa terus bergantung pada pertambangan. Kita punya potensi wisata alam dan budaya yang luar biasa. Jika dikembangkan dengan baik, ini bisa jadi sumber ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya, Minggu (8/6/25).
Pemerintah daerah, sambungnya, saat ini tengah mempercepat pembangunan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan pariwisata.
Namun, Syarifatul menegaskan bahwa pembangunan sektor ini tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan agar strategi pengembangan bisa berjalan optimal.
Ia menilai, keterlibatan aktif dari pelaku usaha lokal, masyarakat, hingga perusahaan besar yang telah lama beroperasi di Berau sangat dibutuhkan.
Selain itu, ia berharap arah kebijakan kepala daerah yang baru terpilih nantinya dapat sejalan dengan gagasan diversifikasi ekonomi ini.
“Kita butuh kerja sama semua pihak. Pemerintah, pelaku industri, masyarakat lokal harus duduk bersama. Tanpa sinergi, pariwisata tidak akan berkembang maksimal,” kata politisi perempuan dari Dapil Berau, Kutim, dan Bontang ini.
Tak hanya sektor pariwisata, Syarifatul juga menekankan pentingnya memperkuat sektor pertanian dan kelautan.
Dua sektor ini, menurutnya, menyimpan potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi lokal, namun selama ini belum mendapat perhatian yang memadai.
“Sektor pertanian dan kelautan kita sebenarnya kuat, tapi belum digarap secara serius. Padahal dua sektor ini bisa menyediakan lapangan kerja luas dan berdampak langsung ke masyarakat,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa nilai tambah dari setiap potensi lokal harus bisa dinikmati masyarakat setempat.
Salah satu contohnya adalah industri pengolahan hasil tambang, yang idealnya dilakukan di daerah asal agar tidak hanya menghasilkan produk mentah yang dinikmati pihak luar.
“Kita ingin Berau tumbuh dari dalam. Jangan sampai kekayaan sumber daya kita hanya diangkut keluar, sementara masyarakat di daerah penghasil tetap hidup dalam keterbatasan,” terangnya.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Kaltim untuk membangun ketahanan ekonomi yang tidak rapuh terhadap fluktuasi harga komoditas tambang serta mempersiapkan diri menyambut era transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan.(ADV DPRD KALTIM)
penulis : NA













