SANGATTA – Mulai tahun depan, DPPKB Kutim mengubah pola pelatihan bagi para kader. Semua kegiatan tidak lagi dipusatkan di hotel, tetapi dilakukan langsung di kecamatan atau minimal zona terdekat. Cara ini dipilih agar peserta dapat melihat kondisi lapangan secara langsung dan stakeholder maupun perusahaan bisa ikut terlibat. DPPKB menekankan bahwa pendekatan semacam ini membuat layanan lebih tepat sasaran.
Dalam merancang program, DPPKB mengandalkan data BINA Bangga Kencana serta data keluarga berisiko stunting dari aplikasi Siga Mobile dengan fitur Elsimil. Data tersebut sangat lengkap, mulai dari kondisi rumah, ketersediaan air bersih, hingga kebutuhan layanan KB. Informasi ini memudahkan pemerintah mengetahui keluarga rentan dan warga yang masih memakai alat kontrasepsi tradisional, sehingga intervensi dapat disesuaikan.
Pada tahun 2026, DPPKB Kutim akan memperkenalkan dua program unggulan, yaitu AKSIS dan Sekolah Lansia. Program AKSIS melibatkan Perangkat Daerah yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting. Satu angkatan terdiri dari 30 peserta yang akan belajar bersama Lembaga Administrasi Negara. Melalui kelas ini, tiap OPD diminta membedah data dan kegiatan agar penanganan stunting lebih terarah.
Sementara itu, Sekolah Lansia menjadi bagian lanjutan dari program nasional Sidaya. Kegiatannya berlangsung selama satu tahun dan ditutup dengan wisuda. Peserta mendapatkan pemeriksaan kesehatan, senam, pelatihan keterampilan, dan edukasi agar tetap aktif. Program ini dijalankan bersama Dinas Pendidikan dengan memanfaatkan SKB dan PKBM, dimulai dari Sangatta Utara sebelum diperluas ke kecamatan lain.
Selain itu, Sekolah Siaga Kependudukan juga akan dihadirkan di seluruh 18 kecamatan. DPPKB pun menerima mandatori anggaran pendidikan mulai tahun 2026, yang merupakan pertama kalinya sejak instansi ini berdiri. Seluruh program tersebut mendukung agenda Bupati Kutim, terutama dalam pendidikan nonformal, percepatan penurunan stunting, dan penanganan kemiskinan. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













