Samarinda — Kebiasaan buang air besar di Sungai Mahakam melalui jamban apung masih menjadi tantangan serius di Kalimantan Timur (Kaltim).
Anggota DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry, menilai persoalan ini tak cukup diatasi hanya dengan membangun infrastruktur sanitasi. Menurutnya, pendekatan budaya dan edukasi masyarakat harus berjalan seiring.
“Masalah ini bukan sekadar teknis, tapi sudah jadi kebiasaan turun-temurun. Sungai dianggap bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka perlu edukasi yang konsisten agar masyarakat mau beralih ke pola hidup yang lebih sehat,” kata Sarkowi, Selasa (24/6/25).
Sarkowi mengungkapkan, meskipun pemerintah telah membangun fasilitas MCK yang layak, perubahan perilaku masyarakat tidak bisa terjadi seketika.
Ia bahkan mengibaratkan transisi ini seperti peralihan dari telepon umum ke ponsel pribadi membutuhkan waktu dan pendekatan yang tepat.
“Tidak cukup dengan bangun fasilitas saja. Harus ada pendekatan komunitas, kampanye publik, bahkan dialog dengan tokoh adat agar perubahan benar-benar diterima,” jelasnya.
Data dari Dinas Kesehatan Kaltim mencatat masih banyak warga di sepanjang bantaran Sungai Mahakam yang belum memiliki akses sanitasi layak. Praktik buang air langsung ke sungai masih umum ditemukan, terutama di permukiman padat dan pesisir.
Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat, termasuk penyebaran penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan infeksi saluran pencernaan.
Sarkowi menekankan, tanpa intervensi budaya yang terarah, target sanitasi aman dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) akan sulit tercapai.
“Pemerintah perlu menyertakan strategi budaya dalam setiap program pembangunan sanitasi. Edukasi bukan soal pasang spanduk, tapi bagaimana melibatkan masyarakat dalam proses perubahan itu sendiri,” tutupnya. (ADV DPRD KALTIM)













