Samarinda – Upaya membangun konektivitas antarkawasan di Kalimantan Timur terus mendapat sorotan, terutama dalam konteks pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi lokal. Salah satu titik strategis yang dinilai memiliki peran penting adalah keberadaan Jembatan Nibung di Kabupaten Berau.
Anggota DPRD Kalimantan Timur, Makmur HAPK, menekankan bahwa pembangunan Jembatan Nibung bukan hanya urusan teknis infrastruktur, melainkan kunci pembuka bagi pertumbuhan sektor ekonomi dan pariwisata di wilayah pesisir.
Ia melihat proyek tersebut sebagai penentu arah kemajuan kawasan yang selama ini terhambat oleh keterbatasan akses transportasi.
“Selama ini masyarakat menggantungkan mobilitas pada kapal feri yang tidak efisien. Padahal, kelancaran akses menjadi syarat mutlak bagi perputaran ekonomi yang sehat,” ungkap Makmur, Sabtu (28/6/2025).
Ia menambahkan bahwa Jembatan Nibung akan memainkan peran strategis dalam mempercepat distribusi barang dan mobilitas penduduk, terutama menuju destinasi unggulan seperti Pulau Derawan dan Biduk-Biduk.
Potensi wisata tersebut, kata Makmur, belum tergarap maksimal karena kendala keterhubungan darat yang terbatas.
“Dengan akses yang lancar, kita bisa membuka pintu lebih lebar bagi pariwisata dan UMKM tumbuh. Efek gandanya akan sangat besar, mulai dari lapangan kerja, peningkatan jasa, hingga kontribusi nyata terhadap PAD daerah,” ujarnya.
Meski optimistis dengan dampak jangka panjang dari jembatan tersebut, Makmur mengingatkan bahwa agenda pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kawasan pesisir.
Menurutnya, wilayah pedalaman juga memiliki kebutuhan mendesak yang tak boleh diabaikan, mulai dari jalan, air bersih, hingga fasilitas sosial dasar.
“Keseimbangan pembangunan harus dijaga. Jangan sampai yang di hulu selalu tertinggal hanya karena tidak punya destinasi wisata besar. Pembangunan harus menyeluruh,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat lokal dalam menyambut dan merawat geliat wisata yang akan terbuka. Baginya, pembangunan fisik harus dibarengi dengan kesiapan sosial dan budaya agar wisata yang dikembangkan benar-benar berkelanjutan.
“Kalau lingkungannya bersih, tertib, dan masyarakatnya ramah, wisatawan akan datang kembali. Itu jauh lebih bernilai dari sekadar membangun jembatan tanpa perawatan kawasan,” tambahnya.
Makmur menyampaikan harapan agar Berau dapat menjadi contoh pembangunan daerah yang tidak hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi juga membangun identitas melalui wisata berbasis lingkungan, budaya, dan keterlibatan aktif masyarakat.
“Ke depan, kita ingin Berau menjadi model bagaimana daerah bisa maju tanpa meninggalkan kearifan lokal dan kelestarian alam. Jembatan Nibung bisa jadi awal dari transformasi itu,” pungkasnya. (ADV DPRD KALTIM)
Penulis NA













