BENGALON — Langit Sekerat kini mulai ramai oleh warna-warni parasut. Festival Sekerat 2025 menjadi momen bersejarah ketika wahana paralayang dibuka untuk umum setelah lolos tiga kali uji kelayakan oleh atlet profesional, termasuk Ike Ayu Wulandari dari Malang dan Ali Musa, pilot asal Kutim. Dalam ajang ini, warga bisa ikut terbang tandem dengan biaya Rp400 ribu per orang, durasi 5–7 menit, dengan batas berat badan antara 25–90 kilogram. Panitia bahkan menyiapkan ojek gratis menuju titik lepas landas di Bukit Mampang.
Kita bisa mendapatkan pemandangan yang menakjubkan, seperti pantai, sawah, dan langit senja berpadu membentuk panorama yang sulit dilupakan. Meski begitu, masih ada sejumlah hal yang harus dibenahi, seperti akses jalan menuju lokasi, pembangunan shelter, serta pengamanan area.
Di tengah kemeriahan festival, Bupati Kutai Timur, H. Ardiansyah Sulaiman, datang meninjau langsung lokasi Bukit Mampang. Ia berdialog dengan komunitas paralayang dan pelaku wisata yang ingin menjadikan Sekerat sebagai pusat wisata udara nasional hingga internasional. “Alamnya mendukung dan potensinya besar. Kami akan pelajari semua usulan dan siap membantu agar cita-cita ini terwujud,” ucapnya.
Perwakilan Tim Terpadu Wisata Dirgantara Sekerat, Arman Mando, menjelaskan bahwa untuk mencapai standar nasional, dibutuhkan akses jalan yang lebih baik dan fasilitas landasan yang memenuhi syarat. “Idealnya ketinggian 250 meter untuk tingkat nasional dan 350 meter untuk internasional,” katanya. Ia juga mengusulkan adanya sekolah pilot paralayang agar warga sekitar bisa ikut berkembang melalui wisata petualangan ini.
Bupati menyambut baik gagasan tersebut dan meyakini bahwa jika fasilitas terpenuhi, Sekerat bisa menjadi pusat paralayang di kawasan timur Indonesia, seperti Kota Batu di Jawa Timur. Kini, Sekerat tidak hanya dikenal lewat keindahan pantainya, tetapi mulai menegaskan diri sebagai ikon wisata langit Kalimantan Timur. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













