TENGGARONG – Desa Mangkurawang Darat kini terbentuk setelah mengalami pemekaran dari Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Dengan terbentuknya desa baru ini, Mangkurawang Darat memasuki babak baru dalam perjalanannya menuju kemajuan.
Namun, meskipun status desa telah diberikan, jalan menuju pembentukan pemerintahan desa yang utuh dan mandiri masih panjang dan penuh tantangan administratif yang harus diselesaikan.
Secara geografis, Mangkurawang Darat terletak di antara dua desa tetangga, Rapak Lambur dan Bendang Raya.
Wilayah ini sejak lama dikenal memiliki potensi besar, terutama di sektor pertanian, yang menjadi salah satu alasan utama masyarakat setempat menginginkan pemekaran desa ini.
Dengan memiliki lima RT yang akan terpisah dari Kelurahan Mangkurawang, mulai dari RT 13 hingga RT 17, Mangkurawang Darat kini berusaha untuk mewujudkan potensi-potensi tersebut secara optimal.
Lurah Mangkurawang, Ardiansyah, menegaskan bahwa pembentukan Mangkurawang Darat adalah aspirasi masyarakat setempat yang sudah lama mendambakan kemandirian administratif.
“Masyarakat di sini sudah sejak lama menginginkan agar wilayah ini bisa mandiri. Ada lima RT yang berpisah dari Mangkurawang, dan mereka memiliki potensi besar, terutama di sektor pertanian,” ungkap Ardiansyah.
Kawasan Mangkurawang Darat memang dikenal dengan lahan pertaniannya yang subur. Sebagian besar penduduk setempat menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam, mulai dari padi, jagung, hingga berbagai komoditas perkebunan lainnya.
Dengan terbentuknya desa baru, warga berharap bahwa potensi pertanian ini bisa dikelola dengan lebih baik dan lebih optimal, terutama dengan adanya dukungan dari dana desa yang akan diterima setelah Mangkurawang Darat resmi menjadi desa mandiri.
Dalam pandangan Ardiansyah, langkah ini juga memberikan harapan besar untuk peningkatan infrastruktur dan pelayanan publik di wilayah tersebut.
Saat ini, banyak fasilitas dasar, seperti jalan desa, irigasi, dan sarana pendidikan, yang masih membutuhkan perhatian dan perbaikan.
Warga berharap dengan adanya pemekaran desa ini, pembangunan infrastruktur bisa lebih fokus dan tepat sasaran, serta mendukung kemajuan ekonomi masyarakat setempat.
“Dengan status desa, kami berharap pembangunan infrastruktur bisa lebih baik dan lebih fokus. Selain itu, dengan adanya dana desa, kami juga bisa lebih maksimal dalam mengelola potensi pertanian dan meningkatkan kesejahteraan warga,” kata salah satu warga, Rudi, yang juga seorang petani di wilayah tersebut.
Namun, meski proses pemekaran desa telah berjalan, Mangkurawang Darat masih menghadapi beberapa tantangan, salah satunya adalah penetapan batas wilayah yang jelas dengan desa tetangga.
Penetapan tapal batas yang tepat dan tidak menimbulkan sengketa sangat penting untuk memastikan pembagian wilayah yang adil dan menghindari konflik di kemudian hari, terutama terkait dengan kepemilikan lahan dan pengelolaan sumber daya alam.
Ardiansyah mengungkapkan bahwa pihaknya tengah bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) dan tim teknis untuk menentukan titik koordinat tapal batas desa secara jelas.
Penetapan koordinat ini sangat penting, mengingat masalah batas wilayah bisa menjadi sumber sengketa di masa depan jika tidak diselesaikan dengan baik sejak awal.
“Proses penetapan tapal batas ini adalah salah satu langkah yang harus kami selesaikan. Kami berkoordinasi dengan DPMD dan tim teknis untuk memastikan bahwa koordinat batas desa ini ditetapkan dengan jelas dan sah secara hukum,” ujar Ardiansyah.
Langkah ini bukan hanya untuk memastikan pembagian wilayah yang adil, tetapi juga sebagai syarat administratif dalam pengajuan status desa ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Dengan penetapan batas wilayah yang jelas, Mangkurawang Darat diharapkan dapat lebih mudah mendapatkan hak dan kewajibannya sebagai desa yang terpisah dari Kelurahan Mangkurawang.
Pembentukan Mangkurawang Darat juga tidak terlepas dari dukungan dan partisipasi aktif masyarakat setempat.
Masyarakat di wilayah ini berharap agar dengan menjadi desa mandiri, mereka dapat lebih mudah mengakses berbagai program pembangunan yang telah disiapkan oleh pemerintah, serta mempercepat peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan mereka.
Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembentukan desa baru ini, dengan memastikan proses administrasi dan legalitas berjalan dengan lancar.
Hal ini penting agar Mangkurawang Darat dapat segera berfungsi penuh sebagai desa yang mandiri dan mampu mengelola potensi sumber daya alam dan manusia secara lebih efektif.
“Pembentukan desa ini adalah langkah besar bagi kami, dan kami berharap dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat dapat membantu kelancaran proses ini. Dengan adanya Mangkurawang Darat sebagai desa mandiri, kami yakin potensi di bidang pertanian dan sektor lainnya dapat berkembang lebih pesat,” kata Ardiansyah.
Melihat berbagai potensi dan tantangan yang ada, Mangkurawang Darat kini berada di persimpangan jalan yang penting.
Di satu sisi, desa ini memiliki banyak sumber daya alam yang melimpah dan sektor pertanian yang subur untuk dikelola. Di sisi lain, proses administrasi dan legalitas yang masih harus diselesaikan menjadi tantangan yang harus dilalui sebelum desa ini bisa berfungsi penuh.
Namun, dengan semangat kemandirian dan dukungan dari masyarakat, Mangkurawang Darat memiliki potensi untuk berkembang menjadi desa yang mandiri, makmur, dan sejahtera.
Dengan fokus pada pengelolaan sektor pertanian, pembangunan infrastruktur, dan penguatan pemerintahan desa, Mangkurawang Darat diharapkan dapat menjadi contoh desa yang sukses dalam menjalani pemekaran dan memanfaatkan potensi lokalnya secara optimal.
Pemekaran Mangkurawang Darat menjadi desa ini diharapkan akan membuka lembaran baru yang lebih baik bagi masyarakat setempat, mempercepat proses pembangunan, dan memberikan manfaat langsung bagi semua pihak yang terlibat. (ADV)













