Samarinda – Tantangan geografis di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar), khususnya daerah Hulu Mahakam, menuntut pendekatan pembangunan yang lebih adaptif dan inovatif.
Hal ini disampaikan oleh anggota DPRD Kalimantan Timur, Firnadi Ikhsan, yang menyoroti pentingnya perencanaan infrastruktur berbasis kondisi lapangan bukan sekadar mengejar kuantitas proyek.
Firnadi mengungkapkan bahwa kerusakan jalan yang cepat terjadi di sejumlah kawasan seperti Tabang, Kenohan, hingga perbatasan Kutai Barat, kerap disebabkan oleh desain konstruksi yang tidak mempertimbangkan karakteristik tanah rawa yang labil dan mudah amblas.
“Permasalahan utamanya bukan pada kurangnya pembangunan, tapi pada pendekatan teknis yang masih seragam. Di wilayah dengan tanah basah, kita perlu konstruksi jalan yang benar-benar disesuaikan. Ini soal kualitas dan keberlanjutan,” tegasnya, Senin (7/7/2025).
Ia menilai, penggunaan teknologi seperti pile slab struktur jalan yang ditopang oleh tiang pancang dapat menjadi solusi yang lebih tahan lama untuk daerah dengan kondisi tanah ekstrem.
Menurutnya, infrastruktur yang dibangun tanpa memperhitungkan daya dukung tanah hanya akan menghasilkan beban anggaran berulang untuk perbaikan.
Tak hanya menyasar aspek teknis, Firnadi juga menekankan perlunya koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah dan provinsi dalam merancang kebijakan pembangunan. Di tengah masa transisi kepemimpinan Kukar, ia berharap sinergi lintas level pemerintahan semakin diperkuat agar tidak terjadi tumpang tindih program.
“Pembangunan yang efektif itu dibangun dari komunikasi yang solid antar pemangku kepentingan. Dengan adanya Ibu Kota Negara (IKN) di dekat kita, momentum ini harus dimanfaatkan, bukan justru dihambat oleh ego sektoral,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebab, tanpa kesiapan SDM lokal, masyarakat Kukar hanya akan menjadi penonton di tengah geliat ekonomi yang datang bersama proyek strategis nasional.
“Pendidikan vokasi dan pelatihan kerja sangat mendesak. Kita butuh anak-anak muda Kukar yang tidak hanya mampu bersaing, tapi juga siap memimpin perubahan,” katanya.
Lebih lanjut, Firnadi menyoroti potensi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Ia berharap program pemberdayaan yang telah dirintis sebelumnya bisa terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh tidak hanya bantuan alat, tetapi juga strategi branding, digitalisasi usaha, hingga akses pasar yang lebih luas.
Dengan berbagai tantangan tersebut, ia menilai bahwa Kukar membutuhkan keberanian untuk melangkah dengan cara-cara baru. Pembangunan, katanya, tak lagi bisa didorong hanya berdasarkan rutinitas, tapi harus peka terhadap realita dan terbuka terhadap inovasi. (ADV DPRD KALTIM)
Penulis NA













