Samarinda – Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie, menanggapi program Kementerian Lingkungan Hidup terkait pengelolaan sampah menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang direncanakan diterapkan di sejumlah daerah, termasuk Kota Samarinda.
Menurut Novan, saat ini pengelolaan limbah di daerah memang masih mengacu pada regulasi dari kementerian lingkungan hidup, yang memiliki tahapan dan ketentuan tersendiri dalam penerapannya.
“Pengelolaan limbah sekarang kita mengacu pada peraturan kementerian lingkungan hidup. Di situ ada langkah-langkah tertentu yang harus diikuti,” ujarnya, Selasa (5/5/2026)
Ia mencontohkan, dalam penggunaan teknologi seperti insinerator, terdapat aturan yang membedakan jenis yang diperbolehkan dan yang tidak, tergantung pada spesifikasi dan dampak lingkungannya.
“Misalnya penggunaan insinerator, itu ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak, tergantung jenisnya,” jelasnya.
Meski demikian, Novan menyambut positif arah kebijakan pemerintah pusat yang mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik. Menurutnya, langkah tersebut menjadi terobosan penting, terutama di tengah tantangan energi saat ini.
“Kalau hari ini dengan semangat arahan dari kementerian lingkungan hidup, sampah bisa dikelola menjadi pembangkit listrik, itu hal yang sangat baik,” katanya.
Ia menilai, pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
“Kita dihadapkan pada kendala BBM dan lain-lain. Dengan pengelolaan ini, kita bisa membantu negara dan masyarakat, bahwa kita mampu memproduksi energi sendiri,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Novan menekankan bahwa pemanfaatan energi terbarukan dari sampah memiliki dua keuntungan utama, yakni ramah lingkungan dan memberikan kemandirian energi.
“Artinya, dengan pengelolaan energi terbarukan, pertama kita membantu menghadirkan energi yang ramah lingkungan. Kedua, kita bisa memproduksi sendiri untuk digunakan masyarakat,” terangnya.
Ia juga menilai, jika dikelola dengan baik, energi yang dihasilkan dari sampah berpotensi lebih ekonomis dibandingkan bahan bakar konvensional.
“Harganya jelas bisa lebih murah dibandingkan BBM,” pungkasnya. (Adv/Mj)













