SANGATTA – Peringatan puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 di Kutai Timur (Kutim) yang digelar di Ruang Akasia Gedung Serba Guna, Bukit Pelangi, Sangatta belum lama ini membawa kabar baik. Fenomena stunting di masyarakat berhasil ditekan jumlahnya. Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat gizi buruk atau malnutrisi.
Pada Juni 2024, tercatat 15.576 keluarga masuk dalam kategori berisiko stunting. Namun, angka tersebut terus menurun hingga mencapai 12.362 keluarga pada akhir September 2024.
Jumlah anak yang mengalami stunting juga berkurang. Pada Juni 2024, terdapat 1.801 anak stunting, dan pada akhir September 2024 jumlah tersebut menurun menjadi 1.748 anak.
Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutim, Rizali Hadi, yang mewakili Penjabat Sementara Bupati HM Agus Hari Kesuma, mengingatkan pentingnya keluarga sebagai fondasi utama dalam pembangunan masyarakat, khususnya untuk menanggulangi masalah stunting.
Ia juga mengapresiasi dedikasi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) yang sejalan dengan visi nasional menuju Indonesia Emas 2045, dalam upaya pengentasan stunting.
“Keluarga adalah fondasi masyarakat. Program Pemkab Kutai Timur melalui DPPKB sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang bebas stunting,” ujar Rizali Hadi, di hadapan peserta
Kepala DPPKB, Achmad Junaedi, menyatakan tren positif ini menjadi bukti bahwa upaya yang dilakukan pemerintah daerah, bersama dengan mitra kerja, membuahkan hasil nyata.
“Ini tugas berat, tapi kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dari seluruh elemen, termasuk lembaga mitra dan perusahaan, sangat penting,” kata Achmad Junaedi
Saat ini, Kecamatan Muara Bengkal masih menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi, di Kutim. Tercatat ada 224 anak terdampak di sana. Sementara itu, Kecamatan Batu Ampar menjadi wilayah dengan angka stunting terendah, hanya mencatatkan 5 anak yang mengalami kondisi tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi berbagai pihak dalam menekan angka stunting, DPPKB Kutim memberikan penghargaan kepada individu, kelompok, dan perusahaan yang dinilai berperan penting dalam keberhasilan ini. Penghargaan tersebut tidak hanya diberikan pada tingkat kabupaten, tetapi juga melibatkan pihak-pihak yang berkontribusi di tingkat nasional. (*)













