SAMARINDA — Lama tinggal wisatawan menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan pariwisata Samarinda. Pengunjung membutuhkan lebih banyak pilihan destinasi dan kegiatan agar kunjungan mereka dapat memberi manfaat lebih luas bagi usaha lokal.
Anggota DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto, menilai pengembangan pariwisata perlu memperhatikan waktu yang dihabiskan wisatawan di Kota Tepian. Menurutnya, peningkatan jumlah kunjungan perlu diikuti upaya membuat pengunjung tertarik tinggal lebih lama.
“Kita perlu membuat lebih banyak alternatif sehingga mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama di Samarinda,” kata pria yang akrab disapa Dovi itu, Sabtu (3/10/2026).
Alternatif tersebut, menurut Dovi, dapat berupa destinasi, ruang publik, maupun kegiatan wisata yang beragam. Semakin banyak pilihan yang bisa dinikmati, semakin besar peluang pengunjung memperpanjang waktu kunjungannya.
Ia mengaitkan lama tinggal dengan potensi belanja wisatawan. Tambahan waktu di Samarinda membuka peluang pengeluaran untuk penginapan, makanan dan minuman, transportasi, perdagangan, serta kebutuhan wisata lainnya. Manfaatnya diharapkan ikut dirasakan pelaku usaha lokal dan UMKM.
Namun, upaya menambah daya tarik wisata menghadapi keterbatasan anggaran. Dovi mengakui kondisi fiskal menjadi tantangan pemerintah dalam membangun destinasi baru.
“Pemerintah memang menghadapi tantangan untuk membangun destinasi wisata baru,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai keterbatasan tersebut tidak boleh membuat pengembangan pariwisata berhenti. Pemerintah perlu menyusun strategi agar penambahan daya tarik tetap berjalan secara bertahap sesuai kemampuan yang tersedia.
Dovi menekankan bahwa pekerjaan itu membutuhkan keterlibatan pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat. Dukungan berbagai pihak diperlukan untuk memperluas pilihan destinasi serta menghadirkan kegiatan yang dapat menarik pengunjung.
“Diperlukan strategi dan dukungan dari berbagai pihak agar pengembangan wisata tetap berjalan,” katanya.
Menurut dia, kolaborasi tersebut juga memberi ruang bagi masyarakat dan dunia usaha untuk berperan dalam pengembangan pariwisata. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan wisata tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah.
Selain pilihan destinasi dan kegiatan, Dovi menyoroti pentingnya promosi yang konsisten. Potensi yang sudah dimiliki Samarinda perlu dikemas dan diperkenalkan agar semakin dikenal serta mampu menarik minat wisatawan.
“Jika dikelola secara serius, pariwisata dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Samarinda, sekaligus membuka peluang usaha dan meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujarnya.
Dovi berharap pengembangan pariwisata menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi daerah. Penambahan daya tarik, promosi, dan kerja sama lintas pihak perlu berjalan beriringan agar manfaat kunjungan wisatawan dapat dirasakan masyarakat.
Ia menginginkan Samarinda berkembang menjadi destinasi yang memberi pengunjung alasan untuk tinggal lebih lama. Dengan lebih banyak kegiatan yang dapat dinikmati, peluang wisatawan berbelanja pada usaha-usaha lokal pun diharapkan semakin besar. (Adv)













