SANGATTA – Sebanyak 53 mahasiswa Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur (Kutim) Angkatan XXII resmi dilepas untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 45 hari di Kecamatan Kaubun. Pelepasan dilakukan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, di halaman Lobi Kantor Bupati Kutim.
Para mahasiswa akan menjalankan pengabdian di enam desa, yakni Desa Bukit Permata, Bumi Rapak, Cipta Graha, Kadungan Jaya, Mata Air, dan Engadan Baru. Selama berada di desa penempatan, mahasiswa diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ardiansyah mengatakan masa KKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Menurutnya, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman langsung dengan menghubungkan teori yang dipelajari di kampus dengan kondisi nyata di masyarakat.
“Kita sudah lama hadir di dalam kampus sekolah, dan adik-adik mahasiswa diberi waktu selama 45 hari untuk hadir di kampus kehidupan yang mempertemukan antara teori dan aplikasi kerja di lapangan,” ujar Ardiansyah di hadapan para peserta KKN.
Ia meminta mahasiswa memanfaatkan waktu tersebut untuk belajar sekaligus memberikan manfaat nyata. Komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah desa dinilai penting agar program KKN dapat berjalan dengan baik.
Sebagai perguruan tinggi berbasis pertanian, mahasiswa STIPER juga diharapkan mampu membantu mengidentifikasi potensi dan persoalan desa, terutama di sektor agraris dan pemberdayaan ekonomi.
“Terlebih, sebagai perguruan tinggi berbasis pertanian, kehadiran mahasiswa STIPER diharapkan mampu menjadi katalis dalam mengidentifikasi potensi sekaligus memecahkan persoalan desa, khususnya di sektor agraris dan pemberdayaan ekonomi,” sebutnya.
Ketua STIPER Kutim, Dr Ismail Fahmy Almadi, mengatakan para mahasiswa telah memperoleh berbagai materi persiapan sebelum diberangkatkan. Ia berharap seluruh program kerja dapat berjalan lancar dan diselaraskan dengan 50 program prioritas Pemkab Kutim.
Penempatan di Kaubun diarahkan untuk mengoptimalkan potensi desa, mendampingi petani lokal, serta mendorong regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian.
“Fokus utama penempatan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi desa, mendampingi para petani lokal, serta mendorong regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian yang kini menjadi tantangan global,” ujar Ismail.(ADV/prokopim/Kutim)













