Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai Pemerintah Kota Samarinda semestinya memiliki program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi asal Samarinda. Menurutnya, program tersebut ideal untuk dimiliki daerah, meski pelaksanaannya tetap harus disesuaikan dengan kemampuan fiskal.
Pernyataan itu disampaikan Anhar usai Rapat Dengar Pendapat (hearing) Komisi IV DPRD Kota Samarinda bersama Dinas Tenaga Kerja Kota Samarinda terkait progres kegiatan tahun 2026 dan rencana kegiatan tahun 2027, yang digelar pada Rabu (8/7/2026) di Ruang Rapat Gabungan Lantai 1 Kantor DPRD Kota Samarinda.
Menanggapi pertanyaan wartawan mengenai belum adanya program beasiswa dari Pemerintah Kota Samarinda, Anhar mengatakan dirinya bukan pihak yang berwenang menjawab kebijakan pemerintah daerah.
“Ya sebenarnya jangan tanya saya. Kalau saya wali kotanya saya ditanya, saya pasti jawab dong,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa secara ideal program beasiswa memang perlu tersedia, dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan daerah.
“Semestinya paling tidak adalah, ya kan? Ya tentu menyesuaikan juga kan dengan fiskal daerah. Seharusnya seperti itu kan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa beasiswa bagi mahasiswa berprestasi asal Samarinda merupakan program yang ideal untuk diwujudkan.
“Kalau masalah beasiswa itu, ya semestinya, idealnya harus ada. Paling tidak mahasiswa-mahasiswa kita yang berasal dari Samarinda yang punya prestasi,” katanya.
Saat ditanya apakah usulan tersebut pernah dibahas di DPRD, Anhar menjelaskan bahwa legislatif hanya dapat mengusulkan, sedangkan perhitungan kemampuan anggaran berada di ranah pemerintah daerah sebagai eksekutif.
“Ya kita kan sekadar mengusulkan. Tapi yang menghitung itu tentang kemampuan keuangan daerah, tentang asumsi pendapatan kita dari tahun ke tahun kan eksekutif,” jelasnya.
Menanggapi perbandingan dengan program beasiswa di Kabupaten Kutai Timur, Anhar mengatakan setiap daerah sebaiknya memiliki konsep kebijakan sendiri.
“Ya, seharusnya. Makanya saya katakan tadi, saya tidak mau bicara Kutim. Jangan kita selalu plagiat terus, jiplak-jiplak sana, studi banding. Enggak boleh juga seperti itu. Kita punya program sendiri sebenarnya,” tutupnya. (Iqbal Al-Fiqri)













