Samarinda – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Samarinda akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat sebagai strategi meningkatkan budaya literasi.
Langkah tersebut menjadi salah satu program yang disampaikan usai Rapat Hearing Komisi IV DPRD Kota Samarinda bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mengenai progres kegiatan 2026 dan rencana kegiatan 2027 di Ruang Rapat Gabungan Lantai 1 DPRD Kota Samarinda, Senin (20/7/2026).
Kepala Dispursip Kota Samarinda Erham Yusuf mengatakan, dalam rapat tersebut pihaknya memaparkan capaian program sekaligus menerima berbagai masukan dari DPRD agar keberadaan perpustakaan semakin dirasakan masyarakat.
“Apa yang sudah kita kerjakan dan apa yang kita programkan ke depan. Ya sekaligus juga apa? Arahan dari Pak Man, Bu Puji tadi. Ya gimana kita supaya apa ya? Lebih melakukan upaya-upaya, inovasi-inovasi, sehingga keberadaan institusi kita itu lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat ya, terutama dalam upaya untuk meningkatkan kegiatan literasi,” ujar Erham.
Menurutnya, inovasi yang akan dikembangkan salah satunya adalah memperluas kolaborasi dengan berbagai kelompok masyarakat karena sasaran utama literasi memang masyarakat itu sendiri.
“Ya salah satu di antaranya mungkin nanti kita akan apa ya? Memperkuat kolaborasi dengan masyarakat. Karena memang objek sasaran atau subjek literasi itu adalah masyarakat. Ya kan? Masyarakat gitu kan. Ya dengan yayasan, apa ini? Yang punya lembaga pendidikan, dengan pesantren, atau mungkin dengan tokoh masyarakat, toga, dan sebagainya gitu kan. Supaya mereka juga bisa mendorong gitu kan. Ya pengikutnyakah atau konstituennyakah dalam upaya untuk apa ya? Meningkatkan literasi,” katanya.
Selain memperkuat kolaborasi, Dispursip juga terus mengembangkan Gerakan Wakaf Literatur yang telah dicanangkan sejak 2021.
Menurut Erham, gerakan tersebut tidak hanya mengajak masyarakat mewakafkan buku, tetapi juga benda-benda yang memiliki nilai sejarah sebagai referensi pembelajaran.
“Penambahan buku ini kan ada dua. Satu, kita berbasis APBD. Dua, kita tahun 2021 itu mencanangkan apa ya? Gerakan wakaf literatur. Melalui gerakan ini kita mendorong masyarakat untuk berwakaf apa? Buku, atau mungkin apa ini ya? Benda-benda yang menurut saya itu juga bisa menjadi literatur atau referensi,” lanjutnya.
Ia mencontohkan berbagai peralatan komunikasi maupun teknologi lama dapat menjadi koleksi edukatif bagi generasi mendatang.
“Nah. Dan ke depan, kita mungkin tidak lagi nanti mengetik, cukup berucap begini ya kan nah. Artinya teknologi. Nah. Benda-benda itu juga bisa diwakafkan pada kami. Mengingat apa? Mungkin generasi ke depan perlu tahu bahwa dulu apa ini? Teknologi yang digunakan dalam berkomunikasi itu salah satunya seperti ini,” sambungnya.
Erham pun mengajak masyarakat memanfaatkan Gerakan Wakaf Literatur dengan menyumbangkan buku maupun barang-barang lama yang masih memiliki nilai edukasi.
“Makanya kalau punya mesin tik manual yang enggak digunakan, kasihkan saja ke kami. Nah, sama dengan buku-buku. Ya kan lebih berguna kalau diserahkan ke perpustakaan karena itu bisa menjadi amal jariyah,” tegasnya. (Iqbal Al-Fiqri)













