Samarinda – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Samarinda belum mengalokasikan anggaran pengadaan buku fisik pada 2026. Di tengah keterbatasan fiskal, pengadaan koleksi tahun ini difokuskan pada buku digital dengan nilai anggaran sekitar Rp100 juta.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dispursip Kota Samarinda Erham Yusuf usai mengikuti Rapat Hearing Komisi IV DPRD Kota Samarinda mengenai progres kegiatan 2026 dan rencana kegiatan 2027 di Ruang Rapat Gabungan Lantai 1 DPRD Kota Samarinda, Senin (20/7/2026).
Erham menjelaskan besaran anggaran yang diterima perangkat daerah menyesuaikan kondisi keuangan daerah.
“Sekarang kan kuenya kecil, ya tentu dibagi dan itu kan kebijakan pimpinan. Artinya apa? Pimpinan kan punya visi-misi, yang mana yang dikedepankan dan sebagainya,” ujar Erham.
Karena itu, pihaknya juga terus mendorong partisipasi masyarakat melalui Gerakan Wakaf Literatur untuk menambah koleksi perpustakaan.
“Makanya kami apa ini? Mengajak masyarakat, siapa atau siapapun yang punya buku-buku novel, buku-buku apa, dan sebagainya yang dikiranya sudah tidak produktif lagi di rumah. diserahkan ke kita. Karena yang namanya ilmu pengetahuan itu enggak ada kedaluwarsanya,” katanya.
Untuk pengadaan koleksi tahun ini, anggaran difokuskan pada buku digital. Sementara pengadaan buku fisik belum tersedia.
“Untuk pengadaan buku, tapi ini digital ya. Sekitar 100-an lah, 100-an lah. Itu digital. Digital. Untuk fisik kayaknya enggak ada gitu ya. Enggak ada ya? Tahun ini. Tahun ini,” sambungnya.
Erham berharap pada perubahan APBD nantinya pengadaan buku fisik dapat diakomodasi.
“Fisik kayaknya belum, belum, belum. Mudah-mudahan nanti di perubahan ada apa? Ada dianggarkan,” imbuhnya.
Ia menyebut pada tahun sebelumnya anggaran pengadaan buku fisik berada di kisaran Rp160 juta, sedangkan buku digital di bawah Rp50 juta.
Meski koleksi digital menjadi fokus tahun ini, Erham memastikan pengelolaannya berjalan baik dan tidak menemui kendala, termasuk dari sisi administrasi maupun pengawasan.
“Perpustakaan digital ini Pak? Enggak ada masalah sih. Enggak masalah. Sejauh ini kan enggak ada temuan,” katanya.
Ia menambahkan pengadaan buku digital sempat menjadi objek uji petik Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), namun hingga kini belum terdapat temuan.
“Digital ini kan enggak ada bendanya. Sehingga mereka mungkin memberikan perhatian khusus, sehingga dilakukan uji petik. Dan sejauh ini sih belum ada apa ya? Semacam kayak temuan atau surat dari BPK masuk kita untuk itu,” pungkasnya. (Iqbal Al-Fiqri)













