Samarinda – Kembali melonjaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kalimantan Timur sepanjang semester pertama tahun ini memunculkan pertanyaan besar soal efektivitas pola pencegahan yang selama ini diterapkan.
Legislator DPRD Kaltim, Damayanti, menyoroti bahwa wabah ini seharusnya tidak lagi dianggap sebagai persoalan tahunan yang datang dan pergi begitu saja.
Berdasarkan data terakhir, lebih dari seribu kasus DBD tercatat hanya dalam enam bulan pertama 2025, dengan satu korban jiwa.
Bagi Damayanti, tren ini bukan semata-mata persoalan cuaca atau musim hujan, melainkan refleksi dari lemahnya budaya mitigasi yang belum tertanam secara menyeluruh, baik di tingkat kebijakan pemerintah maupun perilaku masyarakat sehari-hari.
“Kita selalu terlambat bertindak karena masih melihat DBD sebagai masalah musiman, padahal ini masalah yang berulang dan bisa dicegah jika ada kesadaran kolektif,” ujar Damayanti saat ditemui di Samarinda, Kamis (3/7/2025).
Ia menilai pendekatan yang selama ini digunakan terlalu reaktif, seperti pengasapan (fogging) saat kasus sudah melonjak. Padahal, menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai jauh hari sebelum masa rawan tiba, termasuk melalui edukasi berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Jika kita masih mengandalkan langkah darurat ketika kasus sudah tinggi, maka siklus ini akan terus berulang. Kita butuh pendekatan yang menyasar perubahan pola pikir, bukan hanya tindakan sesaat,” tegas politisi Fraksi PKB tersebut.
Damayanti juga menekankan bahwa pencegahan DBD tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah atau tenaga kesehatan. Keterlibatan warga secara aktif menjadi kunci dalam memutus rantai penularan virus dengue.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan tindakan pencegahan seperti Gerakan 3M Plus, menguras, menutup, dan mendaur ulang sebagai bagian dari rutinitas, bukan hanya respons saat wabah merebak.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kalau lingkungan rumah dibiarkan kotor, maka seberapa sering pun dilakukan fogging, hasilnya tetap tidak maksimal,” ujarnya.
Dengan lonjakan kasus yang terus berulang, Damayanti mengingatkan agar peristiwa ini menjadi titik balik dalam membangun sistem pencegahan yang lebih terstruktur, berbasis kesadaran, dan melibatkan komunitas secara aktif. Menurutnya, ini bukan hanya soal teknis, tetapi soal membangun budaya hidup sehat yang berkelanjutan. (ADV DPRD KALTIM)
Penulis NA













