Samarinda- Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti mengharapkan perencanaan pembangunan sekolah terpadu bertaraf internasional oleh pemerintah kota (Pemkot) samarinda tak memunculkan adanya istilah sekolah unggulan.
Sekolah terpadu bertaraf intrernasional tersebut merupakan sekolah yang rencananya di dirikan oleh pemkot samarinda di lolasi SMPN 16, Jl. Jakarta, Loa Bakung.
Puji menilai, pembangunan sekolah terpadu tersebut akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas generasi muda yang memiliki tingkat kompetensi berdaya saing global.Namun menurutnya, berdasarkan regulasi, ia tetap berharap tidak ada penggunaan istilah sekolah unggulan.
“Tujuan yang dimaksud pemkot terhadap pendirian sekolah terpadu ini bukan ingin menciptakan adanya paradigma sekolah unggulan, melainkan mungkin membangun role model sekolah yang akan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain di samarinda,” ungkap Puji, kamis (22/08/24).
Penggunaan istilah sekolah unggulan tersebut juga telah dipertegas di dalam permendikbud, yang mempertegas bahwa kualitas dari lembaga penndidikan harus bersifat setara.
“Permendikbud sudah melarang penggunaan istilah sekolah unggulan tersebut, tapi mungkin nantinya pemkot ingin menciptkan standar pendidikan di semua sekolah harus sama, dimana memenuhi 8 standar pelayanan minimal pendidikan (SPM),” ujarnya.
Dilain sisi, pembangunan sekolah terpadu ini juga menimbulkan kekhawatiran yang memicu potensi kesenjangan pendidikan.
“Saya harapkan pemkot untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kota samarinda, sejauh kita punya 200 sekolah negeri di Samarinda yang kondisinya sekarang, terutama di tingkat SD masih ada yang kayu, mau roboh, bahkan mungkin asetnya masih milik masyarakat karena tidak adanya hibah atau akad,” pungkasnya. (ADV)













