Samarinda – Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Ananda Emira Moeis, menyoroti minimnya jumlah ahli gizi yang bertugas di kabupaten/kota. Kondisi ini ia sebut sebagai salah satu faktor yang membuat upaya penurunan stunting berjalan lambat di daerah.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Tahun 2024 mencatat, total tenaga gizi di seluruh provinsi hanya 503 orang. Jumlah tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan ideal untuk melayani populasi Kaltim yang mencapai 4,05 juta jiwa.
“Target rasio nasional itu 0,35 per seribu penduduk, atau 35 tenaga gizi untuk setiap 100 ribu jiwa. Dengan 503 tenaga gizi, Kaltim baru berada di angka sekitar 13 per 100 ribu penduduk. Artinya kita masih jauh di bawah standar nasional,” jelas Ananda.
Ia menegaskan, tenaga gizi memainkan peran vital dalam pencegahan stunting, terutama dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan nutrisi anak dan ibu. Rendahnya rasio tenaga gizi, kata Ananda, dapat berkontribusi pada terhambatnya penurunan angka stunting di Kaltim jika tidak segera ditangani.
“Kalau bicara stunting, maka bicara kebutuhan gizi anak dan ibunya. Tenaga gizi adalah garda depan. Jika jumlahnya kurang, jelas berdampak pada penanganan di lapangan,” tegasnya.
DPRD Minta Dinkes Gandeng Kampus Kesehatan
Ananda mendorong Dinas Kesehatan Kaltim untuk segera bekerja sama dengan fakultas kesehatan di berbagai perguruan tinggi daerah, seperti Universitas Mulawarman, UMKT, dan Poltekkes Kemenkes, guna mempercepat penambahan tenaga gizi.
“Kami di DPRD, melalui fungsi pengawasan, meminta Dinkes melakukan kerja sama konkret dengan universitas. Kaltim sudah punya banyak kampus kesehatan, ini harus dimanfaatkan,” ujarnya.
Sebaran Tenaga Gizi Masih Tidak Merata
Selain minim secara jumlah, sebaran tenaga gizi pun masih timpang antar wilayah. Berikut distribusi tenaga gizi menurut data BPS:
1. Kota Samarinda: 93 orang
2. Kota Balikpapan: 87 orang
3. Kabupaten Kutai Kartanegara: 81 orang
4. Kabupaten Berau: 47 orang
5. Kabupaten Paser: 46 orang
6. Kabupaten Kutai Timur: 46 orang
7. Kabupaten Kutai Barat: 36 orang
8. Kota Bontang: 27 orang
9. Kabupaten Penajam Paser Utara: 24 orang
10. Kabupaten Mahakam Ulu: 16 orang
Minimnya jumlah tenaga gizi di beberapa daerah pedalaman dan kabupaten dengan cakupan wilayah luas menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan kesehatan dan percepatan penanganan stunting.(Adv/DPRD Kaltim).













