Samarinda – Dorongan pembangunan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang layak di Kalimantan Timur dinilai tidak akan berdampak optimal tanpa dibarengi edukasi sosial berbasis budaya. Hal itu disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry, yang menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan peningkatan sanitasi di berbagai daerah.
Menurut Sarkowi, persoalan sanitasi bukan semata soal pembangunan fisik, tetapi terkait erat dengan kebiasaan dan kedekatan masyarakat dengan lingkungan, termasuk sungai yang sejak lama menjadi bagian penting kehidupan warga. Banyak masyarakat yang masih memilih mandi atau buang air di sungai, meskipun fasilitas MCK telah tersedia.
“Pembangunan MCK yang layak sebenarnya bukti kepedulian terhadap lingkungan. Tantangannya adalah bagaimana mendorong masyarakat benar-benar mau beralih dari kebiasaan lama ke perilaku sanitasi yang lebih sehat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa faktor budaya menjadi salah satu hambatan terbesar. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai umumnya memiliki kedekatan emosional dan praktis dengan sungai, sehingga perubahan pola hidup tidak bisa dilakukan secara instan.
“Secara budaya kita memang sangat dekat dengan sungai. Itu bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang tinggal di bantaran. Karena itu edukasi sangat diperlukan agar ada pergeseran pemahaman dan perilaku,” jelas legislator dari Dapil Kutai Kartanegara itu.
Sarkowi mengapresiasi upaya pemerintah daerah yang telah menginisiasi pembangunan MCK melalui berbagai program, baik bantuan ke masyarakat maupun proyek instansi terkait. Namun ia menilai pendekatan fisik harus dibarengi strategi sosial yang lebih intensif.
“Pemerintah sudah berusaha menyediakan MCK yang layak, dan itu harus diapresiasi. Tapi membangun saja tidak cukup. Harus ada edukasi terus-menerus supaya masyarakat benar-benar menggunakannya,” kata Sarkowi.
Untuk menggambarkan perlunya perubahan bertahap, ia mengibaratkan transformasi perilaku sanitasi seperti evolusi teknologi komunikasi.
“Dulu kita pakai telepon koin. Untuk beralih ke telepon seluler saja butuh waktu dan edukasi. Sama halnya dengan perilaku hidup bersih, tidak bisa instan. Harus dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Sarkowi berharap pemerintah dapat memperkuat pendekatan berbasis komunitas agar pesan-pesan kesehatan lingkungan lebih mudah diterima dan diinternalisasi.
“Kalau budaya ini bisa kita geser pelan-pelan, akan ada perubahan besar. Lingkungan lebih bersih dan masyarakat lebih sehat,” pungkasnya. (Adv/DPRD Kaltim)













