Samarinda – Penggunaan penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya di sejumlah titik Kota Samarinda, seperti depan GOR Segiri dan Balai Kota, mendapat sorotan dari Anggota DPRD Kota Samarinda, Achmad Sukamto. Menurutnya, teknologi solar cell belum terbukti efektif untuk kebutuhan penerangan jangka panjang di kota.
“Saya kurang setuju kalau pakai tenaga surya, karena kekuatannya tidak terlalu lama. Kalau menggunakan lampu LED berbasis listrik PLN, itu bisa bertahan 5 sampai 10 tahun. Sementara solar cell banyak yang cepat rusak, jadi tidak efektif,” kata Sukamto.
Ia mencontohkan PJU berbasis listrik PLN yang sudah dipasang di Jalan Imam Bonjol hingga Basuki Rahmat terbukti lebih andal. Karena itu, ia mendorong agar pemerintah menambah titik penerangan dengan sistem yang sama, terutama di pusat kota.
Selain kawasan inti, Sukamto juga menyoroti wilayah seberang Samarinda yang masih minim penerangan, khususnya di jalur keluar tol Balikpapan–Samarinda.
Menurutnya, kondisi tersebut berbahaya karena gelap dan rawan kecelakaan, terutama saat hujan dan banjir.
“Di seberang itu tidak ada lampu penerangannya, jadi sangat berbahaya. Keluar tol gelap, ada genangan tidak kelihatan, itu rawan sekali,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sukamto menyebut penambahan PJU sudah masuk dalam rencana anggaran 2026 di Dinas Perhubungan (Dishub). Ia meminta masyarakat turut mengawal agar program itu terealisasi.
“Setahu saya, di anggaran 2026 sudah diakomodasi dalam Dinas Perhubungan. Tinggal kita kawal agar benar-benar terealisasi, baik di pusat kota maupun daerah penyangga,” pungkasnya. (adv)













