Samarinda – Masalah sistem drainase dan kerusakan lingkungan di wilayah perkotaan kembali mencuat. Anggota Komisi I DPRD Kalimantan Timur, La Ode Nasir, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai hal biasa, sebab dampaknya sudah langsung dirasakan masyarakat, terutama di kawasan padat penduduk.
Ia menyebutkan, tata ruang yang mengabaikan ekosistem serta buruknya sistem drainase menjadi penyebab utama tingginya risiko banjir dan genangan.
Dalam pandangannya, perbaikan sistem drainase harus menjadi prioritas dan masuk dalam agenda pembangunan berkelanjutan di daerah.
“Drainase bukan sekadar saluran air, tapi soal bagaimana warga bisa hidup nyaman. Kalau sistemnya tidak jalan, masyarakat kecil yang paling terdampak aktivitas terganggu, ekonomi terganggu, bahkan sekolah anak-anak pun bisa terganggu,” jelas La Ode, Selasa (8/7/25).
Ia juga menyoroti lemahnya kesadaran bersama dalam merawat lingkungan. Menurutnya, kelalaian dalam menjaga keseimbangan alam sering kali justru disikapi dengan saling menyalahkan, bukan evaluasi kolektif.
“Menjaga lingkungan adalah amanah. Ketika terjadi kerusakan, itu seharusnya jadi alarm agar kita semua baik pemerintah maupun masyarakat berbenah, bukan saling tunjuk,” tegasnya.
Lebih jauh, La Ode mengingatkan bahwa proyek drainase jangan hanya bersifat reaktif atau proyek jangka pendek yang muncul saat musim hujan datang.
Ia mendorong agar perencanaan infrastruktur kota dibarengi dengan perlindungan lingkungan secara menyeluruh, agar masalah serupa tidak terus berulang.
Ia pun menegaskan bahwa tanpa pengawasan serius dalam pembangunan dan partisipasi aktif masyarakat, ancaman seperti banjir dan pencemaran lingkungan akan terus menjadi masalah tahunan.
“Kita harus belajar dari setiap peristiwa. Alam sudah memberi peringatan. Tinggal bagaimana kita meresponsnya dengan kesadaran dan komitmen nyata,” tutup La Ode.(ADV DPRD KALTIM)
Penulis : NA













